01 Desember 2025
Ketika Alam Enggan Bersahabat dengan Kita, Saatnya Mengingat P...
28 November 2025
Cucun vs Gen Z: Gagalnya Komunikasi Politik dalam Ruang Publik
Sudah dipublikasikan di Bandung Bergerak Silakan klik untuk baca selengkapnya..
***
Viralnya pernyataan
kontroversial Cucun Syamsurizal membuka diskusi penting tentang etika
komunikasi politik dan partisipasi warga dalam kebijakan publik yang berdampak
pada jutaan anak Indonesia
***
A. Latarbelakang
Minggu,
16 November 2025, Rapat Konsolidasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
program Makan Bergizi Gratis (MBG) digelar di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Acara yang seharusnya menjadi ruang koordinasi produktif antara pemerintah
pusat, daerah, dan stakeholder program gizi ini, berakhir dengan kontroversi
yang mengguncang dunia profesional kesehatan Indonesia.
Rapat
tersebut menghadirkan sejumlah pembicara penting, di antaranya Bupati Kabupaten
Bandung Dadang Supriatna, Wakil Kepala I Badan Gizi Nasional Nanik Sudaryati
Deyang, Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya, serta Wakil Ketua DPR RI mewakili daerah
pemilihan Jawa Barat II Cucun Ahmad Syamsurizal.
Diskusi
memanas ketika seorang peserta, nampak masih muda, memberikan masukan
konstruktif terkait kesulitan Badan Gizi Nasional dalam merekrut ahli gizi. Ia
menyarankan agar jika pengawas SPPG tidak memiliki latar belakang pendidikan
gizi, sebaiknya tidak menggunakan embel-embel "ahli gizi". Peserta ini
juga mengusulkan agar BGN berkolaborasi dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia
(Persagi) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) untuk
mengatasi kekurangan tenaga profesional. Belum tuntas peserta itu menyampaikan
pandangannya, Cucun memotong dengan nada keras: "Kamu itu (bicaranya)
terlalu panjang. Yang lain kasihan. Saya enggak suka anak muda arogan kayak
gini. Mentang-mentang kalian sekarang dibutuhkan negara, kalian bicara
undang-undang. Pembuat kebijakan itu saya".
Cucun
kemudian menyatakan dengan tegas: "Semua keputusan di republik ini saya
tinggal pegang palu, selesai. Saya tidak mau mendengar ada orang sombong".
Cucun juga menyebut tidak perlu ahli gizi. Tinggal melatih lulusan SMA cerdas
selama tiga bulan dan memberikan sertifikasi BNSP untuk menggantikan peran ahli
gizi profesional. Yang membuat situasi semakin rumit adalah pernyataan pejabat
BGN yang hadir dalam rapat tersebut, karena mereka ikut menggemakan pernyataan
Cucun.
Video
cuplikan pernyataan Cucun dengan cepat menyebar di berbagai platform media
sosial, terutama TikTok dan X (Twitter). Hingga Minggu pagi, video tersebut
telah ditonton 619 ribu kali, disukai 31.600 orang, dan dikomentari 1.563 kali.
Respons publik sebagian besar negatif, dengan banyak netizen mengkritik sikap
yang dianggap meremehkan profesi kesehatan. Akun resmi TikTok Partai Gerindra
bahkan mengomentari: "Bahaya banget itu ngomongnya. Anggota DPR RI itu
yang ngomong, bukan dari BGN".
Menghadapi
badai kritik, Cucun kemudian meminta maaf dan memberikan klarifikasi. Ia
menyatakan bahwa pernyataannya adalah respons terhadap usulan perubahan istilah
dari peserta forum, bukan bermaksud menyudutkan profesi ahli gizi. Cucun
mengklaim telah berdiskusi dengan Ketua Persagi dan menegaskan tidak berniat
meremehkan profesi tersebut. Pertemuan lanjutan diadakan pada Senin, 17
November 2025, antara pimpinan DPR dengan BGN dan Persagi. Dalam pertemuan
tersebut, Cucun menggunakan metafora yang tidak lazim: "BGN dan Persagi
sudah mau menikah," merujuk pada komitmen kerja sama untuk memenuhi
kebutuhan ahli gizi dalam program MBG.
Meski
permintaan maaf telah disampaikan, peristiwa ini meninggalkan jejak penting
tentang bagaimana seharusnya komunikasi politik berlangsung dalam ruang publik,
terutama ketika menyangkut kebijakan yang berdampak pada kesehatan jutaan anak
Indonesia.
B. Partisipasi Warga dan Komunikasi Politik dalam Ruang Publik
Partisipasi
politik tidak berhenti di bilik suara. Ramlan Surbakti dalam buku
"Memahami Ilmu Politik" (2005) mendefinisikan partisipasi politik
sebagai segala bentuk keikutsertaan atau keterlibatan warga negara biasa yang
tidak memiliki wewenang, dalam menentukan keputusan yang dapat mempengaruhi
hidupnya. Definisi ini menekankan bahwa partisipasi mencakup seluruh tahapan
kebijakan: pembuatan keputusan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Dalam literatur
ilmu politik, partisipasi dibedakan berdasarkan bentuk kegiatan, motivasi, dan
intensitas.
Teknik Produksi Video Pendek
Sorry.. this is still in progress..
Storyboard adalah cara cepat dan mudah untuk menunjukkan dan berbagi imajinasi Anda. Ini adalah cara visual untuk menyajikan cerita, sebelum benar-benar menghasilkan video nyata. Ini memberi Anda dasar untuk mengembangkan ide lebih lanjut.
Produser, sutradara, dan anggota tim lainnya dapat dengan mudah melihat, mendiskusikan, dan menguji adegan cerita demi adegan. Jika ada ketidaksepakatan, mereka mudah diselesaikan sebelum benar-benar memproduksi video. Ini menghemat waktu dan uang dan membantu menjaga anggaran tetap rendah. Jadi storyboard adalah cara yang bagus untuk menginspirasi ide-ide baru.
Orang terkenal sebagai praktisi, bahkan boleh dibilang fanatik storyboard, adalah Alfred Hitchcock. Dia mengerjakan setiap bidikan film sebelum dia masuk ke produksi film. Bagi Hitchcock, storyboard itu sendiri adalah proses pembuatan film, bukan produksi film. Syuting hanya sebuah keharusan. Memproduksi film adalah eksekusi membuat versi langsung dari storyboard-nya.
Contoh Naskah Timeline
| Waktu | Durasi | Isi |
|---|---|---|
| 00:00 | 5 detik | Hook paling dramatis |
| 00:05 | 20 detik | Inti masalah + 1 kutipan emosional |
| 00:25 | 20 detik | Bukti cepat (statistik + gambar) |
| 00:45 | 15 detik | Call to Action besar + link di bio / swipe up |
Tips Praktis saat Menerapkan Timeline Ini
- Total klip A-roll (wawancara): maksimal 5–6 orang,
masing-masing maksimal 12–15 detik.
- B-roll: minimal 60–70 % dari total durasi agar tidak
membosankan.
- Teks layar: gunakan hanya untuk fakta kunci dan CTA
(maksimal 7–9 kata per layar).
- Musik: mulai minor → major saat masuk bagian solusi.
22 November 2025
Bukan Alien: Komunikasi Sains Adalah Cabang Ilmu Komunikasi
Boleh dikutip dengan menyebut nama penulis, Nursyawal sebagai sumber namun biasanya sumber blogger akan ditolak sebaga referensi. Tulisan ini dibuat dari ringkasan coretan-coretan ketika saya sebagai pembelajar di Prodi Doktor Ilmu Komunikasi UNISBA Bandung ditanya tentang kajian desertasinya, yaitu komunikasi sains. Banyak yang mengerutkan dahinya, apa pula itu? Karenanya, saya simpan di sini saja agar makin banyak orang Indonesia yang tahu, bahwa ini bukan makhluk asing alias ALIEN.
--------
1. Pendahuluan
Pada 15 November 2025, Indonesia untuk pertama kalinya menerima penghargaan satir "Fossil of the Day" di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Belém, Brasil. Penghargaan yang diberikan oleh Climate Action Network International ini merupakan kritik tajam terhadap delegasi Indonesia yang dituduh mengadopsi narasi lobi industri bahan bakar fosil dalam negosiasi pasar karbon, bahkan menyalin poin-poin pembicaraan mereka kata per kata. Tidak banyak kalangan awam yang dapat mengenali narasi para lobbyst dan 46 perwakilan dari perusahaan bahan bakar fosil dalam delegasi resmi Indonesia, karena memang awam tidak memahami issue-nya, juga tidak paham peta politik global pasar karbon serta posisi politik pemerintah Indonesia. Peristiwa ini menggambarkan betapa kompleksnya hubungan antara sains, politik, dan kepentingan ekonomi dalam arena global.(1)
Kasus COP30 menyingkap sebuah persoalan mendasar: bagaimana pengetahuan ilmiah dikomunikasikan, oleh siapa, dan untuk kepentingan apa? Ketika temuan sains tentang perubahan iklim dapat dengan mudah dibelokkan oleh kepentingan komersial, pertanyaan tentang literasi sains publik menjadi sangat mendesak. Rendahnya literasi sains membuat masyarakat rentan terhadap misinformasi, dari soal vaksin hingga isu perubahan iklim. Laporan National Academies of Sciences Amerika Serikat tahun 2024 menegaskan bahwa meskipun literasi sains merupakan faktor penting dalam memproses informasi ilmiah, sikap dan keyakinan yang telah tertanam sebelumnya tetap mempengaruhi bagaimana seseorang menafsirkan bukti (5) yang dikenal dengan gejala confirmation bias.
Melalui tulisan ini saya coba menjelaskan apa itu komunikasi sains dan mengapa bidang ini sesungguhnya bukan "makhluk asing" dalam ilmu komunikasi, melainkan subdisiplin yang sah dengan landasan filosofis dan metodologis yang kuat. Pemahaman ini menjadi krusial di era ketika batas antara fakta dan fiksi semakin kabur, dan ketika kemampuan publik untuk membedakan sains dari pseudo-sains menentukan kualitas keputusan kolektif kita.
2. Apa Itu Komunikasi Sains?
Komunikasi sains merupakan bidang yang mencakup berbagai aktivitas yang menghubungkan sains dengan masyarakat. Burns, O'Connor, dan Stocklmayer dalam artikel klasik mereka "Science Communication: A Contemporary Definition" yang terbit di jurnal Public Understanding of Science tahun 2003 mendefinisikan komunikasi sains sebagai penggunaan keterampilan, media, aktivitas, dan dialog yang tepat untuk menghasilkan respons personal terhadap sains. Respons ini mencakup lima dimensi yang dikenal dengan analogi vokal AEIOU: Awareness (kesadaran), Enjoyment (kenikmatan), Interest (minat), Opinion-forming (pembentukan opini), dan Understanding (pemahaman).(2)
Definisi yang lebih kontemporer dikemukakan oleh Horst, Davies, dan Irwin dalam The Handbook of Science and Technology Studies tahun 2017. Mereka memandang komunikasi sains sebagai tindakan terorganisir, eksplisit, dan disengaja yang bertujuan mengkomunikasikan pengetahuan ilmiah, metodologi, proses, atau praktik dalam situasi di mana non-ilmuwan merupakan bagian yang diakui dari khalayak.(3) Definisi ini membuka pintu bagi pemahaman bahwa komunikasi sains mencakup spektrum luas, dari jurnalisme sains, museum, festival sains, hingga konsultasi publik dan deliberasi kebijakan.
Dalam praktiknya, komunikasi sains hadir dalam berbagai bentuk. Seorang ilmuwan yang menjelaskan temuannya melalui utas Twitter, jurnalis yang menulis artikel tentang penemuan vaksin baru, misalnya melalui webportal The Conversations, kampanye kesehatan masyarakat tentang pencegahan demam berdarah di TikTok, video YouTube yang menjelaskan mekanika kuantum dengan bahasa sederhana, semua ini adalah manifestasi komunikasi sains. The Oxford Handbook of the Science of Science Communication yang diedit oleh Jamieson, Kahan, dan Scheufele menggambarkan bidang ini sebagai area lintas disiplin yang mengkaji bagaimana publik memahami sains, tantangan seperti misinformasi dan bias, serta bagaimana berbagai perantara mengkomunikasikan sains kepada khalayak yang beragam.(4)
3. Kedudukan Komunikasi Sains dalam Ilmu Komunikasi
Komunikasi sains bukanlah bidang yang berdiri sendiri tanpa akar teoretis. Ia merupakan subdisiplin ilmu komunikasi yang memiliki landasan filosofis yang jelas dalam tiga aspek fundamental: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Dari perspektif ontologi, pertanyaan tentang apa yang dikaji, komunikasi sains memfokuskan diri pada fenomena komunikasi dalam konteks sains. Objek kajiannya mencakup bagaimana pesan-pesan ilmiah dikonstruksi, ditransmisikan, dan diterima; bagaimana makna ilmiah diproduksi dan dinegosiasikan antara ilmuwan dan publik; serta bagaimana realitas sosial tentang sains terbentuk melalui interaksi komunikatif. Ontologi komunikasi sains mengakui bahwa sains bukan sekadar kumpulan fakta objektif, melainkan juga praktik sosial yang dimediasi oleh bahasa, simbol, dan konteks budaya.(3,4)
Dari sisi epistemologi, pertanyaan tentang bagaimana pengetahuan diperoleh, komunikasi sains mengadopsi pluralitas metodologis yang mencerminkan kompleksitas objek kajiannya. Peneliti di bidang ini menggunakan metode kuantitatif seperti survei dan eksperimen untuk mengukur efektivitas pesan sains atau tingkat literasi publik. Mereka juga menggunakan metode kualitatif seperti wawancara mendalam dan analisis wacana untuk memahami bagaimana khalayak memaknai informasi ilmiah. Pendekatan kritis digunakan untuk membongkar relasi kuasa dalam produksi dan distribusi pengetahuan ilmiah.(4) Keragaman metodologis ini menunjukkan bahwa komunikasi sains bukan sekadar "sains populer" yang disederhanakan, melainkan bidang akademik dengan tradisi riset yang ketat.
Aspek aksiologi, pertanyaan tentang nilai dan tujuan, memberi komunikasi sains arah normatifnya. Tujuan komunikasi sains tidak semata-mata informatif, melainkan juga transformatif. Pertama, komunikasi sains bertujuan meningkatkan literasi publik sehingga masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai warga negara.(6) Kedua, ia mendorong transparansi dalam proses ilmiah, memungkinkan pengawasan publik terhadap bagaimana sains diproduksi dan digunakan. Ketiga, komunikasi sains berperan dalam demokratisasi pengetahuan, membuat sains tidak lagi menjadi domain eksklusif para ahli, melainkan sumber daya bersama yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.(12)
4. Mengapa Komunikasi Sains Penting di Era Digital?
Era digital telah mentransformasi lanskap informasi secara fundamental, membawa peluang sekaligus tantangan bagi komunikasi sains. Pandemi COVID-19 menjadi momentum yang menyingkap betapa krusialnya komunikasi sains yang efektif. Penelitian menunjukkan bahwa platform media sosial yang dirancang untuk memonetisasi perhatian dan ketidaksepakatan menghadirkan tantangan serius dalam meyakinkan publik yang skeptis tentang sains yang telah mapan.(5)
Tantangan utama di era digital mencakup tiga hal. Pertama, hoaks dan misinformasi yang menyebar dengan kecepatan yang melampaui kemampuan koreksi. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Research on Technology in Education tahun 2024 menunjukkan bahwa ketika misinformasi digital berkembang biak, kemampuan orang untuk mencari dan mengevaluasi informasi online menjadi sangat krusial. Sayangnya, baik kaum muda maupun dewasa cenderung mengandalkan heuristik lemah, jalan pintas mental yang tidak berkorelasi dengan akurasi sumber.(7) Kedua, bias dan pembingkaian yang mempengaruhi bagaimana informasi sains dipersepsikan. Media sering membingkai sains sebagai rangkaian terobosan dramatis, bukan proses penemuan yang berkelanjutan, sehingga menciptakan ekspektasi yang tidak realistis.(4) Ketiga, polarisasi yang membuat isu-isu sains seperti perubahan iklim menjadi pertarungan identitas politik, bukan diskusi berbasis bukti.(5)
Namun, era digital juga membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya. Media sosial memungkinkan ilmuwan berkomunikasi langsung dengan publik tanpa perantara jurnalis, meningkatkan aksesibilitas dan keberagaman suara dalam diskursus sains.(6) Citizen science atau sains warga telah berkembang pesat, melibatkan masyarakat dalam pengumpulan data dan bahkan perumusan pertanyaan penelitian. Inisiatif semacam ini tidak hanya menghasilkan data berharga, tetapi juga membangun keterlibatan dan pemahaman publik terhadap proses ilmiah.(4)
5. Peran Komunikasi Sains untuk Masa Depan
Komunikasi sains memainkan peran vital dalam beberapa arena strategis yang akan menentukan masa depan umat manusia. Pertama, dalam mendorong kebijakan berbasis bukti. Laporan Uni Eropa tahun 2024 tentang Evidence-Informed Policymaking menekankan bahwa warga sangat mendukung penggunaan sains dalam pembuatan kebijakan, dan hal ini dapat meningkatkan kepercayaan terhadap institusi pemerintah.(10) Namun, jembatan antara sains dan kebijakan tidak terbangun dengan sendirinya, ia memerlukan komunikator sains yang terampil untuk menerjemahkan temuan penelitian ke dalam bahasa yang dapat dipahami dan digunakan oleh pembuat kebijakan.
Kedua, komunikasi sains berperan dalam meningkatkan keterlibatan publik pada isu global. Perubahan iklim menghadirkan contoh nyata: petani di berbagai belahan dunia menghadapi pergeseran musim tanam yang memaksa mereka menyesuaikan jadwal penanaman dan jenis tanaman. Riset dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa adaptasi kalender tanam dapat meningkatkan hasil panen tanaman pokok secara signifikan.(9,15) Namun, pengetahuan ini hanya berguna jika dikomunikasikan secara efektif kepada petani dan pembuat kebijakan pertanian.
Di sisi lain, komunikasi sains juga harus menghadapi tantangan komodifikasi hasil riset oleh segelintir penerbit. Lima perusahaan penerbitan besar, Elsevier, Springer, Wiley, Taylor & Francis, dan American Chemical Society, menguasai lebih dari separuh publikasi ilmiah global sejak 2006, dengan margin keuntungan yang mencapai hampir 40 persen.(13) Kondisi ini menciptakan ketimpangan akses di mana pengetahuan yang dihasilkan dengan dana publik justru tidak dapat diakses secara bebas oleh publik itu sendiri.(11) Gerakan open access dan berbagai inisiatif akses terbuka muncul sebagai respons terhadap monopoli ini, menegaskan bahwa demokratisasi pengetahuan ilmiah adalah arena perjuangan yang nyata.(12)
Komunikasi sains yang etis berlandaskan pada prinsip-prinsip yang relevan dengan norma-norma Merton tentang etos sains. Robert K. Merton pada tahun 1942 mengidentifikasi empat imperatif institusional sains yang dikenal sebagai CUDOS: Communism (kepemilikan bersama atas pengetahuan ilmiah), Universalism (evaluasi berdasarkan kriteria objektif), Disinterestedness (bekerja untuk kepentingan bersama, bukan keuntungan pribadi), dan Organized Skepticism (sikap kritis terhadap klaim yang belum teruji).(8) Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa norma-norma ini mengalami erosi dalam lanskap akademik kontemporer yang semakin kompetitif dan terkomersialisasi.(14) Komunikator sains yang baik menjunjung tinggi akurasi, transparansi tentang keterbatasan dan ketidakpastian, serta inklusivitas, memastikan bahwa suara dan kebutuhan komunitas yang terpinggirkan juga terwakili dalam diskursus sains.
6. Penutup
Komunikasi sains bukan makhluk asing dalam ilmu komunikasi. Ia adalah subdisiplin yang memiliki objek kajian yang jelas (fenomena komunikasi dalam konteks sains), metodologi yang beragam dan ketat (kuantitatif, kualitatif, dan kritis), serta tujuan normatif yang mulia (literasi, transparansi, dan demokratisasi pengetahuan). Dalam dunia yang didera krisis iklim, pandemi, dan tsunami misinformasi, komunikasi sains bukan lagi kemewahan intelektual, ia adalah kebutuhan mendesak.
Kasus Indonesia di COP30 mengingatkan kita bahwa sains tidak berbicara untuk dirinya sendiri.(1) Ia memerlukan komunikator yang terampil, jujur, dan berkomitmen pada kepentingan publik. Ketika lobi industri dapat mendikte posisi negosiasi sebuah negara, ketika hoaks kesehatan dapat membunuh lebih banyak orang daripada penyakit itu sendiri, ketika hasil riset terkunci di balik paywall yang tidak terjangkau, di situlah komunikasi sains menemukan panggilannya.
Untuk membangun komunikasi sains yang adil dan inklusif, kita dapat bertindak bukan hanya sebagai konsumen pasif informasi ilmiah, tetapi sebagai warga yang aktif berpartisipasi dalam produksi dan sirkulasi pengetahuan. Karena pada akhirnya, sains adalah milik bersama, dan komunikasinya adalah tanggung jawab kolektif kita.
Daftar Pustaka
(1) Climate Action Network. Fossil of the Day: Indonesia [Internet]. 2025 [cited 2025 Nov 22]. Available from: https://climatenetwork.org/resource/fossil-of-the-day-indonesia/
(2) Burns TW, O'Connor DJ, Stocklmayer SM. Science communication: a contemporary definition. Public Underst Sci. 2003;12(2):183-202. doi: 10.1177/09636625030122004
(3) Horst M, Davies SR, Irwin A. Reframing science communication. In: Felt U, Fouché R, Miller CA, Smith-Doerr L, editors. The Handbook of Science and Technology Studies. 4th ed. Cambridge: MIT Press; 2017.
(4) Jamieson KH, Kahan DM, Scheufele DA, editors. The Oxford Handbook of the Science of Science Communication. Oxford: Oxford University Press; 2017. doi: 10.1093/oxfordhb/9780190497620.001.0001
(5) National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. Understanding and Addressing Misinformation About Science. Washington, DC: National Academies Press; 2024.
(6) Lopes RM, Comarú MW, Pierini MF, de Souza RA, Hauser-Davis RA. Scientific communication and scientific literacy for the public perception of the importance of environmental quality for public health. Front Commun. 2024;9:1297246. doi: 10.3389/fcomm.2024.1297246
(7) McGrew S, Kohnen AM. Tackling misinformation through online information literacy: Structural and contextual considerations. J Res Technol Educ. 2024;56(1):1-15. doi: 10.1080/15391523.2023.2280385
(8) Merton RK. The normative structure of science. In: Merton RK. The Sociology of Science: Theoretical and Empirical Investigations. Chicago: University of Chicago Press; 1973. p. 267-278.
(9) Minoli S, Jägermeyr J, Asseng S, Urfels A, Müller C. Global crop yields can be lifted by timely adaptation of growing periods to climate change. Nat Commun. 2022;13:7079. doi: 10.1038/s41467-022-34411-5
(10) European Commission. Building Capacity for Evidence-Informed Policy-Making. Brussels: Publications Office of the European Union; 2024.
(11) Puehringer S, Rath J, Griesebner T. The political economy of academic publishing: On the commodification of a public good. PLoS ONE. 2021;16(6):e0253226. doi: 10.1371/journal.pone.0253226
(12) Boukacem-Zeghmouri C. Open science: A global movement catches on. UNESCO Courier. 2023.
(13) Larivière V, Haustein S, Mongeon P. The oligopoly of academic publishers in the digital era. PLoS ONE. 2015;10(6):e0127502. doi: 10.1371/journal.pone.0127502
(14) Mackinlay B. The DECAY of Merton's scientific norms and the new academic ethos. Oxford Rev Educ. 2024;50(4):489-505. doi: 10.1080/03054985.2023.2243814
(15) Abebaw SE. A global review of the impacts of climate change and variability on agricultural productivity and farmers' adaptation strategies. Food Sci Nutr. 2025;13(5):e70260. doi: 10.1002/fsn3.70260
08 Oktober 2025
Data We Are Social Digital Indonesia 2025
Ini Linknya..
https://indd.adobe.com/view/5355fd83-5476-4a1e-a611-80d786a600d7?allowFullscreen=true
16 September 2025
AI dan Renungan tentang Kemanusiaan
Klik link di bawah untuk membaca artikelnya.
https://bandungbergerak.id/article/detail/1599830/ai-dan-renungan-tentang-kemanusiaan
30 Agustus 2025
Kematian Affan dan Runtuhnya Kepercayaan Publik kepada Polisi
25 Agustus 2025
Deepfake "Gaji Guru Beban Negara": Bahasa Resmi vs Sentimen Masyarakat
20 Agustus 2025
AI, Kompleksitas Teknologi dan Kewajiban Ilmuwan
Penulis: Nursyawal, M.I.Kom
Pendahuluan
Belum lama ini, penulis menjadi juri dalam perlombaan seni
budaya antarpelajar sekolah menegah atas tingkat propinsi yang kemudian masuk
ke tingkat nasional. Pengalaman yang menarik karena langsung menohok pada tantangan
jaman, yaitu penggunaan kecerdasan buatan alias akal imitasi alias artificial
intellegence (AI). Sejumlah juri khususnya bidang karya cipta naskah sastra, naskah
informasi, naskah musik dan desain visual, menemukan banyak karya peserta lomba
yang ditengarai sebagai hasil karya AI. Karenanya sejumlah juri harus melakukan
wawancara langsung kepada peserta melalui teknologi rapat virtual untuk
mengonfirmasi. Dari hasil wawancara itulah sejumlah karya terkonfirmasi bukan
buatan yang bersangkutan karena tidak sanggup dijelaskan dengan baik olehnya. Berbeda
dengan lomba yang melibatkan aktifitas fisik seperti bernyanyi, membaca puisi,
acting, menari, cabang lomba ini belum tersentuh banyak oleh AI.
Kenyataan ini adalah gambaran masyarakat awam tidak
memahami adanya batasan dan aturan dalam pemanfaatan AI. Awam juga tidak
memahami bagaimana AI memiliki keterbatasan sebagai machine learning,
yaitu kemampuan sistem untuk belajar dari data tanpa diprogram secara
eksplisit. Dalam proses ini, algoritma dilatih menggunakan data dalam jumlah
besar untuk mengenali pola dan membuat prediksi. Lebih lanjut, neural
networks atau jaringan saraf tiruan meniru cara kerja otak manusia dalam
memproses informasi, memungkinkan AI untuk melakukan tugas-tugas seperti
pengenalan wajah, penerjemahan bahasa, menjawab pertanyaan, membuat analisis
data, membuat gambar dan video. Meski terdengar canggih, konsep-konsep ini
sering kali abstrak dan teknis, sehingga menyulitkan publik untuk memahami
bagaimana AI sebenarnya bekerja.
Kesulitan pemahaman ini diperparah oleh cara teknologi AI
dikomunikasikan di media. Banyak narasi yang menggambarkan AI sebagai entitas
yang “cerdas” atau “berpikir sendiri”, padahal kenyataannya AI hanya mengolah
data berdasarkan algoritma yang dirancang oleh manusia. Ketika masyarakat tidak
memahami batasan dan cara kerja AI, muncul risiko misinformasi, misalnya,
menganggap hasil dari AI sebagai 100 persen benar tanpa mempertanyakan proses
di baliknya. Selain itu, bias dalam data yang digunakan oleh AI dapat
menghasilkan output yang diskriminatif atau tidak akurat, yang jika tidak
dijelaskan dengan baik, bisa menimbulkan dampak sosial yang serius.
Dalam konteks komunikasi teknologi, tantangan etika menjadi
sangat penting. Transparansi dalam menjelaskan bagaimana AI bekerja dan
akuntabilitas dalam penggunaannya harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu
tahu bahwa AI bukanlah alat yang netral. Ia bisa dipengaruhi oleh data yang
bias, desain algoritma yang tidak adil, atau tujuan komersial dari
pengembangnya. Tanpa komunikasi yang jujur dan terbuka, publik bisa terjebak
dalam penggunaan teknologi yang tidak sepenuhnya mereka pahami, yang berpotensi
merugikan mereka secara pribadi maupun kolektif.
Contoh Penggunaan AI Dalam Keseharian
Belum lama di Indonesia muncul banyak contoh kasus penggunaan
teknologi yang memungkinkan manipulasi video secara realistis, yang menimbulkan
kekhawatiran dalam hal penyebaran hoaks atau memancing gugatan pencemaran nama
baik. Meski saat ini lebih dominan digunakan sebagai medium ekspresi berpendapat
dalam bentuk satire terhadap kekuasaan yang tidak pro-rakyat. Sementara sistem
rekomendasi di platform belanja online atau media sosial sering kali membentuk
preferensi pengguna tanpa mereka sadari, memakai data pengguna yang dikumpulkan
secara diam-diam. Beberapa kota besar seperti Jakarta dan Bandung mulai
menerapkan sistem AI untuk memantau lalu lintas secara real-time dan mengatur
lampu lalu lintas secara otomatis. Masyarakat sering kali tidak mengetahui
bahwa data pergerakan mereka sedang direkam dan dianalisis, menimbulkan isu transparansi
penggunaan data pribadi.
Aplikasi seperti Ruangguru dan Quipper mulai
mengintegrasikan AI untuk menjawab soal dan memberikan penjelasan otomatis. Akibatnya
siswa bisa bergantung pada jawaban instan tanpa memahami konsep, padahal tidak
semua penjelasan AI akurat atau sesuai kurikulum nasional. Banyak AI yang
menawarkan layanan instan, seperti menulis Essay, karya ilmiah, melukis,
mengedit video dan suara, bahkan membuat musik dengan harga beberapa Dollar AS.
Lembaga survei dan tim kampanye politik juga menggunakan crawler AI untuk
membaca opini publik, padahal kata-kata tertentu memiliki bias, seperti teroris,
penjajah, radikal, dan hasil analisis bisa disalahgunakan untuk manipulasi
opini publik. Saat ini juga e-commerce dan perbankan di Indonesia menggunakan
chatbot berbasis AI untuk melayani pelanggan yang sering kali tidak menyadari
bahwa mereka berbicara dengan mesin, dan informasi yang diberikan AI sangat terbatas
atau tidak dapat memahami konteks informasi. Ini menunjukkan betapa pentingnya
komunikasi teknologi yang etis dan bertanggung jawab.
Strategi Ilmuwan dan Komunikator Sains
Mengkomunikasikan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI)
kepada publik awam bukanlah tugas yang mudah. Ilmuwan dan komunikator sains
perlu mengembangkan strategi yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik
dan mudah dipahami. Salah satu pendekatan yang efektif adalah penggunaan narasi—menceritakan
bagaimana AI digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam aplikasi
belanja online atau navigasi transportasi. Narasi membantu mengaitkan teknologi
dengan pengalaman nyata, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Selain narasi, analogi juga menjadi alat penting. Misalnya,
menjelaskan machine learning sebagai “cara belajar seperti anak kecil
yang melihat banyak gambar kucing dan akhirnya tahu mana yang kucing dan mana
yang bukan.” Analogi seperti ini membantu menyederhanakan konsep teknis tanpa
menghilangkan esensinya. Visualisasi, seperti infografik, animasi, dan simulasi
interaktif, juga sangat efektif dalam menjelaskan proses kerja AI yang
kompleks. Menurut Guzman & Lewis (2022) dalam Journal of
Communication, pendekatan visual dan naratif terbukti meningkatkan
pemahaman publik terhadap teknologi AI secara signifikan.
Peran media, influencer, dan edukator digital juga tidak
bisa diabaikan. Di era digital, informasi tentang AI lebih sering diperoleh
dari YouTube, TikTok, atau Instagram daripada dari jurnal ilmiah. Oleh karena
itu, kolaborasi antara ilmuwan dan kreator konten menjadi penting. Andrea
Guzman (2023) melalui buku Communicating Artificial Intelligence: Theory and
Practice, menekankan bahwa edukator digital memiliki potensi besar untuk
membentuk persepsi publik tentang AI, asalkan mereka dibekali dengan informasi
yang akurat dan etis.
Salah satu studi kasus global yang menarik adalah kampanye
edukasi AI oleh Google DeepMind, yang membuat video animasi dan artikel
populer untuk menjelaskan konsep reinforcement learning kepada publik.
Di Indonesia, beberapa komunitas seperti Indonesia AI Society dan Kelas
Pintar telah mulai mengadakan webinar dan konten edukatif tentang AI untuk
pelajar dan guru. Meski masih terbatas, inisiatif ini menunjukkan bahwa
komunikasi sains yang efektif bisa dilakukan dengan pendekatan yang kreatif dan
kolaboratif.
Penutup
Untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat
dimanfaatkan secara bijak oleh masyarakat Indonesia, diperlukan strategi
komunikasi sains yang lebih inklusif, etis, dan berkelanjutan. Pertama, para
ilmuwan dan pengembang teknologi perlu lebih aktif berkolaborasi dengan
komunikator sains, jurnalis, dan kreator konten digital untuk menyampaikan
informasi tentang AI secara akurat dan menarik. Komunikasi tidak boleh berhenti
pada aspek teknis, tetapi juga harus mencakup dimensi sosial dan etika dari penggunaan
teknologi tersebut.
Kedua, pemerintah dan institusi pendidikan perlu mendukung
literasi AI sejak dini. Kurikulum sekolah dan kampus dapat memasukkan materi
tentang cara kerja AI, dampaknya terhadap masyarakat, serta bagaimana menilai
informasi teknologi secara kritis. Selain itu, pelatihan bagi guru, dosen, dan
tenaga kependidikan tentang komunikasi teknologi juga penting agar mereka dapat
menjadi agen literasi digital yang efektif.
Ketiga, platform digital dan media sosial perlu lebih
bertanggung jawab dalam menyaring dan menandai konten yang mengandung
misinformasi tentang AI. Kolaborasi antara regulator, perusahaan teknologi, dan
masyarakat sipil sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem informasi yang
sehat dan transparan. Seperti yang disampaikan oleh Scheufele & Krause
(2023), dalam artikel berjudul Navigating the ethics of science
communication in the age of AI, pada jurnal Public Understanding of
Science, komunikasi sains yang etis adalah fondasi penting dalam membangun
kepercayaan publik terhadap teknologi baru.
Sebagai penutup, AI adalah teknologi yang sangat potensial,
namun juga kompleks dan penuh tantangan. Tanpa komunikasi yang tepat, publik
bisa terjebak dalam pemahaman yang keliru atau bahkan dimanipulasi oleh narasi
yang menyesatkan. Oleh karena itu, membangun komunikasi sains yang jujur,
inklusif, dan etis bukan hanya tanggung jawab ilmuwan, tetapi juga seluruh
elemen masyarakat. Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa kemajuan teknologi
benar-benar membawa manfaat bagi semua, bukan hanya segelintir pihak.
18 Agustus 2025
Kumpulan Naskah Lama Radio Mara FM Bandung
Kompilasi Naskah Lama Radio Mara FM Bandung
---------------------------------------------
Reporter : Nursyawal
----------------------------
Nama Program Siaran: News Bulletin
-----------------------------
(2001)
Anchor:
Sejumlah pejabat baru Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Jawa Barat mengikuti rapat koordinasi di Bandung hari ini// Reporter Nursyawal melaporkan//
Reporter:
Rapat koordinasi ini dibuka oleh Kepala Badan Koordinasi Keleuarga Berencana Jawa Barat/ Doktorandus Maman Sunjana pagi tadi// Diikuti 22 kepala seksi supervisi kota dan kabupaten se-Jawa Barat// Selanjutnya rapat ini dipimpin Kepala Bidang Supervisi BKKBN Jabar// Menurut keterangan staf seksi advokasi/ komunikasi/ informasi/ dan edukasi BKKBN Jabar/ Doddy Hidayat/ rapat konsolidasi ini dilakukan/ karena 60 persen pejabat di BKKBN Jabar saat ini/ adalah pejabat baru/ setelah perombakan struktur organisasi dan paradigma/ sehingga para pejabat itu membutuhkan orientasi tugas// Dari kantor BKKBN Jabar/ Nursyawal melaporkan///
--------------------------------------------------------
Anchor :
Setelah krisis moneter berlalu/ peserta Keluarga Berencana di Jawa Barat/ kini mulai aktif kembali// Reporter Nursyawal melaporkan//
Reporter:
Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia antara tahun 98-99/ banyak peserta KB yang drop out// Menurut staf seksi advokasi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Jawa Barat/ Doddy Hidayat/ pada saat itu/ pemerintah tidak sanggup menyediakan alat kontrasepsi apapun/ kecuali IUD// Bahan pemerintah sempat membentuk posko krisis KB/ karena kuatir terjadi ledakan kelahiran// Namun kekuatiran itu tidak terjadi/ karena keluarga Indonesia nampaknya memiliki cara sendiri/ untuk mencegah kehamilan tanpa alat kontrasepsi// Menurut Doddy/ mulai tahun ini/ pemerintah kembali memiliki kemampuan untuk menyediakan alat kontrasepsi// Sehingga diharapkan di Jawa barat/ jumlah peserta KB kembali meningkat// Berdasarkan rapat penelaahan program KB Nasional tahun 2021/ yang berlangsung kemarin/ dari hampir 7 juta pasangan suami istri yang ada di Jawa barat/ 73 persen telah kembali menjadi peserta aktif// Dari kantor BKKBN Jabar/ Nursyawal melaporkan///
------------------------------------------------------------
Anchor:
Direksi PT Dirgantara Indonesia siap menjawab tuntutan hukum akibat pemecatan dua orang karyawannya// Reporter Nursyawal melaporkan//
Reporter:
Direktur Utama PT DI Jusman Syafii Djamal/ kepada reporter Radio Mara di kantornya sore tadi/ mengatakan/ dengan senang hati akan menjawab tuntutan hukum dua orang karyawannya yang di-PHK kemarin// Menurut Jusman/ proses PHK sudah sesuai prosedur hukum/ sebab sebelumnya direksi sudah pernah memperingatkan karyawan untuk menghentikan aksi mogok kerja mereka// Selain itu/ menurut Jusman/ direksi sudah berkonsultasi dengan Dinas Tenaga Kerja sebelum melakukan PHK// Dalam konsultasi itu terungkap/ aksi mogok kerja tanpa batas waktu/ adalah aksi ilegal// Apalagi/ menurut Jusman/ tuntutan karyawan untuk menaikkan gaji 200 persen dan mengganti direksi/ tidak mungkin dipenuhi// Untuk news buletin Radio Mara/ Nursyawal melaporkan//
------------------------------------------------
Anchor:
Teknologi informasi tidak hanya dapat digunakan untuk mengirim dan mengolah data di komputer/ melainkan juga dapat digunakan untuk menemukan kendaraan yang hilang dicuri// Reporter Nursyawal melaporkan//
Reporter:
Menurut Guru Besar Institut Teknologi Bandung/ Harijono Djojodihardjo/ masyarakat Indonesia belum memanfaatkan teknologi informasi secara optimal// Di depan peserta diskusi pemanfaatan ruang angkasa bagi pembangunan manusia/ di Aula ITB pagi tadi/ Harijono mengatakan/ teknologi informasi yang saat ini sudah berkembang pesat/ bukan perangkat untuk para ahli komputer saja/ tetapi bisa juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari// Harijono mencontohkan/ teknologi GPRS yang juga dapat digunakan untuk menemukan kendaraan yang dicuri// Dengan menanam alat kecil di dalam kendaraan/ polisi dengan memakai satelit bisa menemukan kembali kendaraan yang dicuri saat itu juga/ tanpa perlu bantuan dukun// Walau kendaraan itu disembunyikan di tengah hutan terpencil sekalipun// Untuk news buletin radio mara/ Nursyawal melaporkan//
================================
Nama Program Siaran: Bandung Kita Hari Ini
-----------------------------------------
(2001)
Anchor:
Keluarga Indonesia bulan ini memulai kegiatan baru/ yaitu saatnya anak-anak mulai masuk sekolah atau kuliah di perguruan tinggi pilihannya// Reporter Nursyawal melaporkan untuk Bandung Kita Hari Ini///
Reporter:
Di siang yang terik ini/ lalu lintas Jalan Surapati Bandung/ nampak semakin padat// Mobil motor hiruk pikuk/ saling berebut jalan// Jika Anda pernah menyusuri Jalan Surapati/ di trotoar sudut jalan antara Jalan Surapati dan Jalan Tilil/ tentu pernah melihat jejaran meja dan kursi kayu kecil berwarna cokelat atau kuning pernis kayu// Di situlah/ tempat saya berdiri saat ini/ suasana terasa berbeda// Lebih teduh dan tenang// Saya berada di dalam sebuah tenda terpal berangka bambu yang teduh// Di dalam tenda ini bertumpuk kayu-kayu albasia serta kursi dan meja kayu yang nampak belum selesai dikerjakan///
Di atas rerumputan/ di dalam tenda ini/ nampak tiga orang pria sedang menikmati nasi bungkus/ makan siang mereka// Di antara mereka/ seorang pria paruh baya/ berjanggut dan tubuh kurus// Namanya Dede Abdullah// Aslinya dari Garut/ anaknya lima/ istri dua// Seluruh keluarga berada di Garut// Pak Dede adalah pemilik tenda ini// Sejak tiga tahun terakhir/ ia menjadi perajin mebel murah untuk mahasiswa// Meja/ kursi/ lemari pakaian/ dipan/ pokoknya apa saja yang dibutuhkan mahasiswa indekos/ siap ia buatkan dari bahan kayu///
Tenda ini/ adalah segalanya untuk Pak Dede// Bengkel/ toko/ dan jika malam tiba/ menjadi tempat beristirahat// Sekali seminggu ia kembali ke kampung membawa uang// Pak Dede tidak pernah menghitung berapa modal usahanya// Tapi ia ingat/ modalnya tidak pernah habis// Setiap minggu ia bisa membawa pulang uang keuntungan yang cukup untuk keluarga besarnya di Garut// Apalagi bulan Juli dan Agustus ini/ pesanan mebel meningkat drastis// Pada bulan-bulan ini/ para mahasiswa baru/ mulai menempati rumah kosnya dan mengisi dengan mebel sesuai kebutuhan dan ukuran ruangan// Karenanya/ ukuran dan desain mebel bikinannya tidaklah standar// Semua tergantung permintaan// Begitu pesanan selesai dan dibayar/ keuntungan langsung dibagi rata dengan para pekerjanya///
Bung/ Nona/ dan Nyonya/ meski Pak Dede adalah pemilik tenda dan juga membayar iuran yang dipungut oknum kecamatan untuk menempati jalur hijau/ trotoar jalan ini/ namun Pak Dede tidak akan memperoleh pembagian keuntungan jika tidak ikut mengerjakan sebuah pesanan// Solidaritas/ begitu kental terasa di tenda yang sesak oleh bubuk gergaji dan potongan kayu/ namun teduh ini// Solidaritas pula yang nampak ketika mereka bersama-sama menyantap nasi bungkus siang ini///
Dari sudut Jalan Surapati dan Jalan Tilil/ saya Nursyawal melaporkan untuk Bandung Kita Hari Ini// Kembali ke rekan ... di studio///
--------------------------------------------------
Anchor:
Konferensi Internasional Budaya Sunda pertama digelar di Gedung Merdeka Bandung// Mengungkap fakta-fakta baru yang belum pernah diketahui oleh orang Sunda// Reporter Nursyawal melaporkan untuk Bandung Kita Hari Ini///
Reporter:
Terima kasih rekan ...//
Bung/ Nona dan Nyonya/ sejak kemarin/ Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika Bandung/ menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Internasional Budaya Sunda yang pertama// Gedung bersejarah ini/ seolah ingin kembali membuat sejarah/ dengan mengundang banyak peneliti dari mancanegara// Mulai dari Swedia/ Amerika Serikat/ dan Jepang// Hampir seluruh ruangan di gedung megah ini dipakai/ menampilkan para peneliti budaya Sunda/ dengan beragam topik// Ada yang menampilkan video/ ada yang menampilkan foto-foto/ ada yang mengungkapkan naskah-naskah kuno dari sastrawan Sunda/ yang belum pernah diketahui bahkan oleh Urang Sunda sekalipun// Sementara ruang bangsal utama Gedung Merdeka diisi lantunan mantera-mantera kuno Sunda yang saya yakini naskahnya tidak pernah diketahui oleh kaum remaja etnis Sunda//
Pada sebuah sesi diskusi/ seorang perempuan peneliti Australia/ Christine Campbell/ mengungkap fakta adanya seorang novelis wanita etnis Sunda/ yang mendahului Kartini dalam mengangkat isu kemerdekaan kaum perempuan// Naskah novelnya hanya ada di Darwin Australia// Christine mengatakan/ sejak awal abad sembilan belas/ perempuan Sunda sudah lebih maju pikirannya dibanding perempuan dari etnis lain di Indonesia// Salah satunya novelis bernama Hamidah Hasan/ seorang perempuan Sunda yang menikah dengan aktivis politik Singapura beretnis Melayu dan tinggal di Singapura// Dalam novelnya/ Hamidah telah mengemukakan ide kebebasan bagi kaum perempuan// Jadi menurut Christine/ selain Dewi Sartika/ etnis Sunda banyak memiliki pejuang kebebasan perempuan/ namun tidak banyak diakui dan diketahui oleh etnis Sunda sekalipun///
Di ruangan lain/ seorang peneliti Swedia/ Mason C. Hoadley/ membahas struktur masyarakat tradisional Sunda yang sudah tertata rapi/ namun terancam konflik dengan sistem hukum positif Indonesia// Menurut Mason/ adat Sunda telah berfungsi menjaga keseimbangan dalam masyarakat dan manajemen konflik// Mason khawatir/ jika adat tidak segera diakomodasi ke dalam hukum positif Indonesia/ dapat menimbulkan konflik/ karena hukum positif Indonesia menganut pendekatan hukum Barat// Misalnya dalam hukum agraria/ karena adat Sunda telah mengatur pola dan struktur ruang hunian dan hutan sebagai warisan// Hukum positif harus mengadopsi konsep adat/ untuk menghindari konflik//
Konferensi ini/ nampak betul seperti membuka kotak harta karun kebudayaan Sunda/ kepada pewarisnya// Namun sayang/ untuk mengikuti konferensi ini sebagai peserta/ masyarakat umum harus membayar tiga ratus ribu rupiah/ dan seratus lima puluh ribu rupiah untuk mahasiswa// Meski harga cukup mahal/ peserta nampak penuh// Di setiap akhir sesi/ koridor yang menghubungkan antar ruangan di gedung merdeka ini/ sesak oleh peserta//
Dari Gedung Merdeka Bandung/ saya Nursyawal melaporkan untuk Bandung Kita Hari Ini// Kembali ke rekan ... di studio///
----------------------------------
Anchor:
Sore ini/ untuk Bandung Kita Hari Ini/ reporter Nursyawal mengajak kita menjenguk sebuah kampus yang tidak biasa/// Silakan/ laporan Anda//
Reporter:
Terima kasih/ rekan ...// Bung/ Nona/ dan Nyonya/ tadi siang saya sempat berkunjung ke sebuah kampus di Jalan Nias Bandung// Kita mengenalnya dengan gedung fakultas filsafat Universitas Katolik Parahyangan// Seperti halnya kampus filsafat lain yang merupakan sekolah teologi Kristen di Indonesia/ di kampus ini/ kita tidak akan menjumpai hal-hal yang biasa kita temui di kampus lain// Kita tidak akan menemukan mahasiswa mahasiswi dengan pakaian trendi dan penuh gaya/ serta rambut berwarna-warni// Juga tidak akan menemukan mahasiswa yang sibuk dengan ponsel masing-masing// Takkan dijumpai jejeran mobil di halaman parkir/ bahkan motor sekalipun// Saya hanya melihat beberapa motor terparkir di halaman kampus yang lebih banyak ditumbuhi pepohonan ini// Motor-motor itu pun ternyata milik satpam yang sedang bertugas// Di kampus ini/ kita hanya akan melihat deretan sepeda di halaman parkir/ dengan mahasiswa berpakaian kasual/ kemeja lengan panjang polos dan celana bahan berwarna gelap// Ketika bubaran kuliah/ maka kita akan melihat pemandangan tidak biasa di zaman modern ini/ yaitu rombongan mahasiswa menaiki sepedanya keluar lingkungan kampus// Sepeda-sepeda itu menerobos jajaran Kijang/ Zebra/ Panther/ Kodok/ Kuda/ dan Jangkrik/ di jalan raya///
Di saat orang lain berebut memiliki alat-alat kenyamanan hidup/ para mahasiswa filsafat ini/ jadi nampak sedang menyiksa diri// Dan ini diakui oleh Pembantu Dekan III fakultas filsafat Universitas Katolik Parahyangan/ Romo Fabianus// Mahasiswa di fakultasnya memang tidak boleh memiliki ponsel/ tidak boleh memakai mobil atau motor/ kecuali dalam keadaan darurat/ dan tidak boleh memakai pakaian mahal// Bahkan di asrama/ mahasiswa hanya boleh mendengar radio dan menonton televisi beberapa jam saja di hari Minggu// Meski bukan aturan akademik/ hal itu menjadi tradisi spiritual bagi mahasiswa// Menurut Romo Fabi/ jika sang mahasiswa tidak sanggup meninggalkan ketergantungannya pada alat bantu kenyamanan hidup itu/ maka dipastikan ia tidak akan sanggup menyelesaikan studinya/ dan menjadi seorang Pastor///
Proses mengekang diri dari kenyamanan hidup duniawi ini disebut askese// Selain hidup sederhana/ para calon pastor ini melatih diri dengan banyak hal spiritual lain// Sebelum akhirnya menjadi pastor dan hidup selibat/ alias tidak kawin// Menurut Romo Fabi/ proses ini akan membebaskan diri seorang calon pastor dari keberpihakannya pada kehidupan duniawi/ sehingga hidupnya dapat menjadi teladan// Menurut Romo Fabi/ setidaknya/ tradisi mengendarai sepeda ke mana-mana di tengah kesemrawutan lalu lintas Kota Bandung saat ini/ dapat menjadi penggoda warga kota untuk juga memakai sepeda ke mana-mana// Berkeringat/ sehat/ dan tidak akan termakan macet///
Dari kampus fakultas filsafat Universitas Parahyangan/ Nursyawal melaporkan untuk Bandung Kita Hari Ini// Kembali ke rekan ... di studio///
----------------------
29 Juli 2025
27 Juni 2025
Komunikasi Krisis Pemerintah : Studi Kasus Tambang Nikel di Kawasan Raja Ampat Papua
Penulis: Nursyawal (kandidat Doktor Ilmu Komunikasi UNISBA Bandung)
Tema ini telah dipaparkan dalam kuliah umum pada kelas mata kuliah media dan komunikasi krisis di Program studi magister ilmu komunikasi Universitas Pancasila, 26 Juni 2025.
Latar Belakang: Luka di Surga Laut
Pulau Gag di Raja Ampat, Papua Barat
Daya, bukan sekadar gugusan karang dan pasir putih. Ia adalah bagian dari
segitiga terumbu karang dunia, rumah bagi pari manta, paus sperma, dan ribuan
spesies laut lainnya. Gugusan pulau di Raja Ampat, Papua Barat Daya, dikenal
sebagai bagian dari pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Namun, keindahan ini terancam sejak aktivitas
tambang nikel oleh PT Gag Nikel kembali berjalan, pulau ini memicu kontroversi
nasional dan menarik perhatian dunia.
Awalnya Bulan Maret 2025, masyarakat
adat menolak operasional tambanag Nikel di kawasan Raja Ampat. Aliansi
masyarakat adat menyebut eksploitasi ini mengancam bukan hanya alam, tetapi
martabat budaya Papua. Kemudian awal Bulan Juni, aktifis Greenpeace Indonesia
menarik perhatian publik dengan aksi demo di tengah sebuah konferensi di sebuah
hotel di Jakarta. Greenpeace menyebut lebih dari 500 hektare hutan telah rusak,
dan sedimentasi dari tambang mengancam ekosistem laut. Di sisi lain, sebagian
warga Pulau Gag justru menolak penutupan tambang karena bergantung pada
perusahaan untuk penghidupan. Pemerintah kemudian mencabut empat dari lima izin
tambang di Raja Ampat, namun tetap mempertahankan izin PT Gag Nikel.
Kontroversi ini memperlihatkan kompleksnya
hubungan antara pembangunan, lingkungan, dan komunikasi publik serta benturan
abadi antara ekologi dan ekonomi yang menggoyahkan kepercayaan masyarakat
terhadap negara. Kembali kita menyaksikan benturan antara ekologi dan ekonomi
yang mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Di sini
peran komunikasi krisis pemerintah diuji untuk memulihkan kepercayaan
masyarakat sebab “kepercayaan adalah fondasi di mana legitimasi lembaga publik
dibangun dan sangat penting untuk menjaga kohesi sosial.” (Hidayat et al., 2022,
hlm. 209).
Komunikasi Krisis Pemerintah: Klarifikasi dan Ketidakpercayaan
Menurut Perse, komunikasi krisis
mencakup “peningkatan ketergantungan masyarakat pada media dalam situasi penuh
ketidakpastian,” terutama untuk memperoleh kejelasan, stabilitas, dan makna (2001,
hlm. 150). Dalam konteks ini, komunikasi bukan hanya informasi, tetapi juga
rekonstruksi kepercayaan sosial. Untuk memahami bagaimana wacana pemerintah
dalam kasus tambang nikel dibentuk dan diterima publik, artikel ini menggunakan
metode analisis wacana kritis dari Teun A. van Dijk. Pendekatan ini membedah
bahasa sebagai alat kekuasaan yang memengaruhi persepsi melalui tiga tingkat
struktur wacana: struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Analisis
dimulai dengan membaca elemen makro (tema utama), superstruktur (pola penyajian
narasi), dan mikrostruktur (pilihan kata, gaya bahasa, metafora). Selanjutnya,
kognisi sosial menyoroti bagaimana aktor, dalam hal ini pemerintah, membangun
makna dalam pikiran kolektif masyarakat. Terakhir, konteks sosial menganalisis
posisi institusi dalam struktur kekuasaan dan bagaimana mereka mendominasi alur
informasi.
Teknik analisis dilakukan melalui
pengumpulan korpus data berupa kutipan pernyataan, publikasi media, dan pidato
publik, lalu ditelusuri cara narasi dibentuk: apakah bersifat penyangkalan
(denial), justifikasi legal, atau delegitimasi kritik. Analisis ini
memungkinkan pembaca melihat ketimpangan antara narasi elite dan realitas
lapangan, serta menilai bagaimana kontrol atas informasi digunakan untuk
membentuk opini publik. Dengan begitu, wacana bukan sekadar soal kata-kata,
tetapi cara institusi memosisikan dirinya dalam konflik dan krisis, apakah
sebagai pelayan publik atau sebagai penjaga citra.
Berikut tabel kompilasi data dalam polemik tambang nikel Raja Ampat ini:
|
24 Maret 2025, New Guinea Kurir |
Yohan Sauyai, tokoh adat, menyerahkan
petisi penolakan dari 12 kampung Suku Betew dan Maya karena tambang merusak
wilayah adat dan laut sakral. |
|
21 Mei 2025, Prima Rakyat |
Filep Wamafma (Ketua Komite III DPD RI)
menyatakan sektor tambang mengancam ekosistem dan bertolak belakang dengan
aspirasi masyarakat adat yang mendukung pariwisata berkelanjutan. |
|
3 Juni 2025, Kompas.com |
Greenpeace Indonesia dan aktivis lokal
menggelar protes di "Indonesia Critical Minerals Conference" dengan
pesan "Save Raja Ampat from Nickel Mining" |
|
4 Juni 2025, Media Pemalang |
Dua aktivis Greenpeace dan masyarakat
Papua ditahan saat aksi damai di Jakarta. Greenpeace melaporkan kerusakan
lebih dari 500 hektare hutan di Pulau Gag, Kawe, dan Manuran. |
|
8 Juni 2025, Kompas.com |
Iqbal Damanik (Juru Kampanye Hutan
Greenpeace) menyatakan eksploitasi nikel menyebabkan sedimentasi pesisir dan
kerusakan ekosistem laut Raja Ampat. |
|
10 Juni 2025, Media Indonesia |
Bahlil Lahadalia menyatakan keputusan
pencabutan izin tambang "bukan karena viral," menolak tekanan
publik. Ia juga menegaskan PT Gag Nikel diizinkan beroperasi karena telah
sesuai AMDAL |
|
12 Juni 2025, Kompas.com |
Pemerintah melabeli klaim kerusakan
lingkungan sebagai "hoaks" dan menyebut terumbu karang "tetap
lestari" |
|
13 Juni 2025, MSN News |
Komnas HAM dan Auriga Nusantara
menyatakan aktivitas tambang di enam pulau sebagai pelanggaran HAM dan pemicu
konflik sosial |
|
16 Juni 2025, Media Indonesia |
Yan C. Warinussy (Sekjen DAP) menolak
penyelesaian adat dan menyebut kasus ini sebagai eco-crime yang harus
diselesaikan secara pidana. |
|
18 Juni 2025, MSN News |
Yan C. Warinussy kembali menyatakan
pernyataan Menteri Bahlil keliru dan membahayakan keadilan hukum masyarakat
adat. |
|
18 Juni 2025, iNews.id |
Auriga Nusantara, Greenpeace, Unesa,
dan masyarakat Manuran melaporkan hilangnya 494 hektare hutan dan pencemaran
laut, dengan warga melaporkan air laut berubah cokelat akibat sedimentasi
tambang. |
|
19 Juni 2025, Tempo |
Jefri Dimalauw (tokoh pemuda Kampung
Salio) melaporkan konflik antara dua kampung Suku Kawe terkait hak
pengelolaan Pulau Wayag dan tambang. |
|
20 Juni 2025, RM.id |
Filep Wamafma dan Yan C. Warinussy
mendesak pemerintah dan aparat hukum menindak tambang secara pidana, menyebut
masyarakat adat korban kebijakan yang keliru. |
|
23 Juni 2025, Mongabay.co.id |
Auriga Nusantara, akademisi kelautan,
dan masyarakat sipil menuntut penghentian tambang di pulau kecil, menyoroti
UU No. 1/2014 yang melarang tambang di pulau kecil dan dampak ekologis lintas
wilayah |
|
24 Juni 2025, Kompas.com |
KPK berkoordinasi dengan Greenpeace
untuk meninjau ulang izin tambang dan mencegah potensi korupsi sektor sumber
daya alam |
|
24 Juni 2025, MSN News |
Kementerian LHK mengklaim PT Gag Nikel
berstatus "hijau dan biru," menunjukkan ramah lingkungan |
|
24 Juni 2025, Liputan6 |
Brigjen Pol Nunung dari Polri
menyatakan, "Namanya tambang pasti ada kerusakan. Tambang mana yang
nggak rusak?" |
Manusia adalah makhluk
yang kompleks karena kesanggupannya mengolah bahasa, sehingga simbol yang
nampak dapat memiliki makna berganda. Apa yang terbaca, terdengar, terlihat,
bisa jadi bukan itu yang dimaksud. Dalam ilmu komunikasi pernyataan-pernyataan
manusia yang tersurat dapat dianalisis maksud yang tersirat dibaliknya menggunakan
kerangka analisis wacana kritis, di antaranya model analisis van Dijk. Begitu pula
pernyataan-pernyataan yang mewakili pemerintah dan dapat ditemukan di sejumlah
media online terkait kontroversi tambang nikel di kawasan Raja Ampat dapat dianalisis
makna tersiratnya. Kerangka analisis ini dapat melihat bagaimana kekuasaan
menggunakan bahasa tidak hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk
membentuk realitas. Dengan membedah struktur narasi dan mencari kata kunci dari
sejumlah pernyataan yang ada, kemudian melihat ideologi dibalik pernyataan itu (kognisi sosial),
serta menemukan apa tujuan pelontaran pernyataan itu (konteks sosial).
Dengan model analisis van Dijk itu kita dapat menemukan lima pernyataan kunci pemerintah dan strategi komunikasi di baliknya.
Tabel Analisis Wacana Kritis Model van Dijk
|
No |
Pernyataan |
Struktur
Teks |
Kognisi
Sosial |
Konteks
Sosial |
|
1 |
“Sesuai Amdal” (10 Juni) |
Justifikasi legal formal |
Pemerintah menegaskan prosedur di
atas etika lingkungan |
Ketegangan antara hukum dan moral
ekologis |
|
2 |
“Bukan karena viral” (10 Juni) |
Defensif terhadap opini publik |
Menolak bahwa masyarakat punya
pengaruh legitimasi |
Masyarakat sipil menguat di ruang
digital |
|
3 |
“Pencemaran itu hoaks” (12 Juni) |
Makro: penyangkalan krisis; Mikro:
labelisasi |
Mengarahkan publik agar hanya
mempercayai versi pemerintah |
Tekanan kuat dari LSM dan publik
digital |
|
4 |
“Terumbu tetap lestari” (12 Juni) |
Absolutisme lingkungan |
Menafikan temuan visual dan kritik
independen |
Diskrepansi antara data lapangan
dan narasi resmi |
|
5 |
“Hijau dan biru” (24 Juni) |
Simbolisasi administratif |
Menciptakan legitimasi melalui
indikator birokratis |
Penilaian KLHK dipertanyakan
independensinya |
1. "Sesuai
AMDAL" - Teknokratisasi Politik Lingkungan
Menteri ESDM berulang
kali menegaskan bahwa PT Gag Nikel beroperasi "sesuai AMDAL." Ini
adalah contoh klasik teknokratisasi, di mana persoalan politik dan ekologis
direduksi menjadi urusan teknis administratif. Strategi ini efektif karena
menciptakan ilusi objektivitas: seolah-olah keputusan diambil berdasarkan
sains, bukan kepentingan politik-ekonomi. Padahal, AMDAL bukanlah dokumen
netral, ia adalah produk negoisasi antara perusahaan, konsultan, dan birokrat
yang tidak selalu mengutamakan kepentingan ekologis. Selain itu, pemerintah juga
tidak membuka dokumen AMDAL itu untuk evaluasi publik. Transparansi, prinsip
fundamental demokrasi, diabaikan.
2. "Bukan Karena
Viral" - Depolitisasi Partisipasi Publik
Pernyataan bahwa evaluasi
pemerintah yang kemudian mencabut sejumlah izin tambang "bukan karena isunya
viral" mengungkap mentalitas anti-demokrasi. Pemerintah melihat mobilisasi
warga dunia maya (netizen) sebagai "gangguan" ketimbang bentuk
partisipasi politik yang sah. Ini adalah strategi depolitisasi, mengabaikan
dimensi politik dari isu publik dengan menyebutnya sebagai "sensasi
media" atau "viral." Padahal, kampanye digital adalah salah satu
cara masyarakat sipil mengorganisir diri dalam demokrasi di era media sosial
saat ini. Toh pemerintah pun menggunakan saluran yang sama untuk propagandanya
di jaman sekarang. Dengan mendiskreditkan "viralitas," pemerintah sedang
menolak legitimasi bentuk-bentuk baru partisipasi politik.
3. "Pencemaran Itu
Hoaks" - Politik Post-Truth
Labelisasi klaim
kerusakan lingkungan sebagai "hoaks" seperti yanag disampaikan
beberapa kali oleh pejabat pemerintah adalah strategi berbahaya yang
menunjukkan adopsi politik post-truth. Ketika bukti empiris (foto satelit,
laporan nelayan, dokumentasi LSM) didiskreditkan sebagai "informasi
palsu," yang terjadi adalah relativisme epistemologis, tidak ada lagi
kebenaran objektif, yang ada hanya versi pemerintah versus versi oposisi. Strategi
ini mengikis dasar-dasar diskursus demokratis yang mensyaratkan adanya fakta
bersama sebagai titik tolak debat publik. Ketika fakta dipolitisasi, yang
menang bukan argumen terkuat, melainkan kekuatan yang paling dominan.
4. "Terumbu Tetap
Lestari" - Kontradiksi Performatif
Klaim bahwa terumbu
karang "tetap lestari" sambil mengizinkan aktivitas yang jelas-jelas
merusak adalah contoh kontradiksi performatif, ketika pernyataan bertentangan dengan
tindakan yang memungkinkan pernyataan itu ada. Ini menunjukkan pemerintah lebih
memprioritaskan konsistensi dongeng ketimbang konsistensi faktual. Yang penting
bukan realitas lapangan, melainkan realitas diskursif yang bisa diatur-atur
jalan ceritanya oleh penguasa.
5. "Status
Hijau-Biru" - Greenwashing Institusional
Klaim Kementerian LHK
bahwa PT Gag Nikel berstatus "hijau dan biru" adalah greenwashing tingkat
institusional. Dengan menggunakan simbolisme warna yang diasosiasikan dengan
kelestarian, pemerintah mencoba menciptakan legitimasi ekologis bagi aktivitas
yang secara fundamental anti-ekologi.
Greenwashing adalah
strategi komunikasi korporat yang kini diadopsi negara untuk melegitimasi
kebijakan yang merusak lingkungan dengan retorika pelestarian lingkungan.
Misalignment: Ketika Janji dan Realita Tak Sejalan
Komunikasi krisis menjadi jembatan
antara pemerintah dan masyarakat saat terjadi ketegangan. Namun dalam kasus
ini, berdasarkan hasil analisis wacana kritis, pendekatan yang diambil pemerintah
cenderung bersifat defensif dan top-down. Menurut Fearn-Banks (2016),
komunikasi krisis yang efektif harus bersifat transparan, empatik, dan berbasis
data. Ketika pemerintah gagal menunjukkan data independen atau membuka ruang
dialog, maka komunikasi berubah menjadi alat pembenaran, bukan pemulihan. Pemerintah
melalui Kementerian ESDM menyatakan aktivitas tambang PT Gag Nikel “tidak
menimbulkan pencemaran” dan menyebut sebagian kritik sebagai “hoaks”. Pernyataan
ini memperkuat persepsi publik bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
Salah satu akar krisis kepercayaan
adalah misalignment, ketidaksesuaian antara narasi pemerintah dan realitas di
lapangan. Pemerintah menjanjikan pembangunan berkelanjutan dan transisi energi
hijau, namun justru mengizinkan eksploitasi di kawasan ekosistem sensitif. Dalam
Manajemen Krisis Komunikasi, Irwanti (2023, hlm. 87), menjelaskan “ketika
organisasi menyampaikan pesan yang tidak konsisten dengan tindakan, maka krisis
reputasi tak terhindarkan”. Sementara Aziz & Wicaksono (2020) menekankan
bahwa komunikasi krisis bukan sekadar klarifikasi, tetapi dialog berkelanjutan
yang membangun kepercayaan. Kembali menurut Irwanti (2023, hlm. 81), “ketika
tindakan institusi tak sesuai dengan komunikasi eksternal, maka krisis reputasi
berubah menjadi krisis moral”.
Dalam kasus tambang nikel, misalignment ini terlihat jelas pada data ini:
|
Pemerintah menyebut tambang “tidak
mencemari” |
dokumentasi Greenpeace menunjukkan
limpasan tanah dan kerusakan hutan. |
|
Pemerintah mengklaim mendukung
konservasi |
namun tetap mengizinkan tambang di
pulau kecil yang dilindungi oleh UU No. 1 Tahun 2014. |
|
Narasi “bukan karena viral” |
sisi lain nampak kuatnya gerakan
digital. |
|
Frasa “hijau biru” air laut |
vs foto sedimentasi laut dan keruhnya
kepercayaan publik |
Komunikasi krisis yang ideal seharusnya mampu meredakan kecurigaan publik dan membangun kembali kepercayaan. Namun dalam kasus ini, yang terlihat justru pendekatan defensif dan konfrontatif.
Membangun Ulang Kepercayaan, Bukan Sekadar Menambal Citra
Kasus tambang nikel di Pulau Gag bukan hanya soal logam dan ekonomi. Ia adalah cermin dari bagaimana pemerintah berkomunikasi dalam krisis yang menyentuh ekologi, budaya, dan kepercayaan publik. Komunikasi krisis yang efektif bukan tentang membungkam kritik, tetapi tentang mendengar, menjelaskan, dan bertindak konsisten, tentang bagaimana krisis tidak cukup dihadapi dengan klarifikasi teknokratis. Melainkan komunikasi partisipatif yang transparan dan berbasis empati publik.
Daftar Pustaka
Aziz, M. S., & Wicaksono, M. A. (2020). Komunikasi Krisis. Banda Aceh: Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Aceh [https://diskominfo.acehprov.go.id/media/2022.12/buku_komunikasi_krisis_dummy1.pdf]
Fearn-Banks, K. (2016). Crisis Communications: A Casebook Approach (5th ed.). New York: Routledge.
Irwanti, M. (2023). Manajemen Krisis Komunikasi: Tinjauan Teoritis dan Praktis. Jakarta: Widina Media Utama. (http://repository.usahid.ac.id/3316/2/Buku%20CETAK%20MANAJEMEN%20KRISIS%20KOMUNIKASI.pdf)
Tempo. (2025, Juni 13). Kontroversi Izin Tambang Nikel di Raja Ampat. (https://www.tempo.co/politik/kontroversi-izin-tambang-nikel-di-raja-ampat-1685748)
Kompas. (2025, Juni 9). Polemik Penambangan Nikel di Raja Ampat: Suara Warga dan Fakta Sejarahnya. (https://www.kompas.com/kalimantan-timur/read/2025/06/09/133200188/polemik-penambangan-nikel-di-raja-ampat-suara-warga-dan-fakta)
Perse, E. M. (2001). Media Effects and Society. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.
Kompas.com.
(2025, Juni 12). Kontra-Narasi Tambang Raja Ampat dan Krisis Kepercayaan
Publik. (https://nasional.kompas.com/read/2025/06/12/07150011)
Liputan6. (2025, Juni 24). Polri: Tambang Mana yang Tak Merusak Lingkungan. (https://www.liputan6.com/news/read/6060466)
Media Indonesia. (2025, Juni 10). Pemerintah Beberkan Alasan Tindak Tambang Raja Ampat. (https://mediaindonesia.com/ekonomi/781002)
MSN News. (2025, Juni 10 & 24). Pernyataan Pemerintah Soal Izin Tambang Nikel Raja Ampat. (https://www.msn.com/id-id)
Hidayat, R., Yusuf, N. R., & Tamrin, S. H. (2022). Tingkat kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah dalam penanganan COVID-19. Jurnal Neo Societal, 7(4), 208–220. https://ojs.uho.ac.id/index.php/NeoSocietal/article/viewFile/28071/pdf
