10 Agustus 2026

Indonesia [c]Emas 2045

NURSYAWAL

30080023009

Tugas Kuliah DIKOM UNISBA

Pendahuluan

Meski konsep sejahtera dan kesejahteraan adalah konsep yang relatif (Webster, 1988) namun cita-cita bangsa Indonesia untuk memajukan kesejahteraan umum, terus dikerjakan. Bahkan sejak tahun 1996, telah dicanangkan capaian pemajuan kesejahteraan dalam konsep Indonesia Emas dengan tenggat waktu tepat pada usia 100 tahun kemerdekaan, yaitu 2045. Capaian tersebut adalah sumber daya manusia unggul, demokrasi yang matang, pemerintahan yang baik, dan keadilan sosial (Hidranto, 2023).


Pada masa pemerintahan Presiden Jokowi (2014-2024) konsep Indonesia Emas masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dengan target yang lebih operasional yaitu: kepemimpinan yang berpengaruh di dunia, pendapatan perkapita setara negara maju, emisi gas nyaris nol, kemiskinan mendekati nol, daya saing Sumber Daya Manusia mencapai skala 0,73 menurut Human Capital Index dari Bank Dunia atau dalam konteks Indonesia disebut Indeks Pembangunan Manusia (Bappenas, 2019).

 

Tabel 1. Kecenderungan Positif Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia

dari Tahun 1999 hingga 2019 (olahan penulis, sumber: bps.go.id)

 

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) memiliki tiga dimensi yang digunakan sebagai dasar perhitungannya:

1.      Kesehatan, yang diukur dengan angka harapan hidup saat kelahiran

2.      Pendidikan, yang dihitung dari angka harapan sekolah dan angka rata-rata lama sekolah

3.      Standar hidup layak, yang dihitung dari produk nasional bruto per kapita


Sementara pendapatan perkapita diukur dari rerata penjumlahan konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi dikali selisih ekspor dan impor lalu dibagi jumlah populasi sebuah negara (Badan Pusat Statistik, 2024).

 

Tabel 1. Kecenderungan Peningkatan Pendapatan Nasional Indonesia

dari Tahun 2018 hingga 2023 (olahan penulis, sumber: bps.go.id)

 


Sedangkan garis Kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan, dan bukan makanan, yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Selain itu, ada pula indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan dengan penghitungan tersendiri. Seluruh cara mengukur ini di Indonesia ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia dengan mengikuti unsur dasar berupa purchasing power parities yang ditetapkan oleh Bank Dunia (Badan Pusat Statistik, 2023).

 

Tabel 2. Kecenderungan Negatif Pertumbuhan Penduduk Miskin Indonesia

dari Tahun 2012 hingga 2023 (Badan Pusat Statistik, 2023)

 


Dari sejumlah data statistik yang ada, Indonesia terus mendekati target. Sehingga, “Impian Indonesia” yang ditulis Presiden Jokowi pada awal masa kepemimpinannya, nampak bukan mimpi di siang bolong.

Gambar 1. Tulisan Tangan Presiden Joko Widodo tentang “Impian Indonesia 2015 – 2085” (sumber : Dokumen Visi Indonesia 2045, Bappenas, 2019)

 

Tahun 2045 menjadi tenggat waktu, sebab pada saat itu populasi Indonesia diproyeksikan akan terdiri dari 65 persen warga berusia produktif (15-64 tahun) yang merupakan penduduk usia kerja atau sekira 208 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2018). Dalam pidato pencanangan rencana pencapaian Indonesia Emas, Presiden RI Joko Widodo menekankan, komposisi jumlah penduduk seperti itu adalah kekuatan besar yang disebut bonus demografi. Namun dengan catatan, jika kualitas manusianya baik. Yaitu yang memiliki keterampilan, karakter, hingga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak tertinggal dari bangsa lain (Ramadhan & Santosa, 2023).

            Dengan asumsi itu, maka penduduk berusia produktif pada 2045 adalah penduduk yang sedang berada di sekolah dasar hingga berusia 45 tahun pada tahun 2024. Artinya dengan mengetahui kualitas manusia saat ini, maka dapat diperkirakan seperti apa kualitas manusia di tahun 2045 itu.

            Terdapat banyak perangkat untuk melihat kualitas SDM, di antaranya, yang khusus menilai kepemilikan pengetahuan dan kemampuan bernalar individu, disusun oleh Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dengan nama Programme for Internasional Student Assessment (PISA) dan Programme for the Internasional Assessment of Adult Competence (PIACC). PISA menilai kualitas literasi pelajar berusia 15 tahun (OECD, 2024), sementara PIAAC menilai pengetahuan dan keterampilan kerja responden berusia 16 hingga 65 tahun di negara-negara peserta (OECD, 2024). Perbedaan PISA dengan PIACC adalah pada satu aspek tambahan pada PIACC, yaitu kemampuan adaptasi dan memecahkan masalah dalam lingkungan sosial. Baik PISA maupun PIACC sama-sama menilai literasi dan numerasi.

            Indonesia berpartisipasi pada PISA sejak Tahun 2001 sementara pada PIACC hanya pada Tahun 2015. Skor PISA pelajar Indonesia pada Tahun 2012 berada pada peringkat 71 dari 72 negara, Tahun 2015 peringkat 64 dari 72 negara (Indriani, 2016)), tahun 2018 peringkat 74 dari 79, dan tahun 2022 peringkat 67 dari 203 negara dunia (Kemendikbudristek, 2023). Dalam Publikasi Country Note (OECD, 2019), survei PISA di Indonesia mengikutsertakan 12.098 responden berusia 15 tahun dari 399 sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia.

            Berbeda dengan PISA, survei PIAAC dilakukan hanya di Ibukota Jakarta antara 1 April 2014 hingga 31 Maret 2015. Sekitar 7.229 orang dewasa berusia 16-65 tahun menjadi responden. Hasil survei memberikan gambaran tentang kemahiran orang dewasa dalam tiga keterampilan pemrosesan informasi utama:

a.       Literasi : kemampuan untuk memahami dan menanggapi teks tertulis dengan tepat

b.      Numerasi : kemampuan untuk menggunakan konsep numerik dan matematika

c.       Pemecahan masalah di lingkungan padat teknologi : kapasitas untuk mengakses, menafsirkan dan menganalisis informasi yang ditemukan, mengubah dan berkomunikasi dalam lingkungan digital.

Tingkat kemahiran digambarkan dengan skala 500 poin yang dibagi menjadi beberapa Tingkat/level. Setiap tingkat merangkum apa yang dapat dilakukan seseorang dengan skor tertentu. Untuk literasi dan numerasi terbagi dalam 6 tingkat/level kemahiran (Level 1 hingga 5, dan level kurang dari 1) kemudian 4 tingkat untuk pemecahan masalah di lingkungan padat teknologi (Level 1 hingga 3, dan level kurang dari 1).

Hasil survei PIACC Tahun 2015 (OECD, 2016) untuk responden warga Jakarta menunjukkan hanya 1 persen yang berada pada level 5 untuk literasi, level 3 untuk numerasi. 70 persen berada di level kurang dari 1 (level terendah). Sebagai gambaran, dalam survei PISA di Indonesia, terungkap siswa dengan lingkungan ekonomi yang lebih baik, cenderung berada pada level yang lebih tinggi dibanding siswa dari lingkungan ekonomi yang rendah (OECD, 2019). Konteks ini dapat digunakan untuk menggambarkan seperti apa perbedaan ekonomi antara Jakarta dengan kota lain di Indonesia, dan menggunakan gambar tadi untuk menilai kualitas literasi dan numeric orang dewasa di luar Kota Jakarta. Sementara dalam keterampilan pengolahan informasi dan berkomunikasi dalam lingkungan digital, kebanyakan responden berada dalam skor rendah dan sangat rendah. Untuk meningkatkan keterampilan pemrosesan informasi orang dewasa, OECD memberikan sejumlah rekomendasi, di antaranya dengan meningkatkan kualitas pendidikan agar warga Indonesia dapat beradaptasi dengan lingkungan digital.

            Data kuantitatif tadi menunjukkan rendahnya kualitas SDM Indonesia yang akan mengisi kebutuhan kinerja bangsa tahun 2045 nanti. Jika melihat data kualitatif, kecemasan itu makin bertambah. Sejumlah riset menujukkan warga Indonesia masih gemar menyebar informasi yang tidak diperiksa terlebih dahulu (Ajengrastri, 2019; Thorn & Curnow, 2021; Mardjianto, Pandji, & Indrasari, 2022). Sebagai contoh, ketika perhatian publik pada pertengahan 2024 tertuju pada proses penyelidikan ulang kasus yang diberi label “Vina Cirebon”, beredar kabar melalui media sosial Youtube “Aktual” dengan subscriber 40 ribu lebih pada 25 Juni 2024 dengan narasi: “Presiden Jokowi Dan Sigit Resmi Copot Polda Jabar Akibat Batalkan Sidang Pegi”. Sebuah peristiwa yang faktanya tidak ada, alias hoax, namun sudah ditonton lebih dari seribu orang pada 27 Juni 2024 dan memperoleh tujuh komentar yang mempercayai informasi tersebut (Tim Kalimasada, 2024). Tidak lama setelah mendapat tag sebagai hoax dan report dari tim pemeriksa fakta Mafindo, akun tersebut tidak dapat lagi diakses publik. Contoh kasus ini, mengonfirmasi lemahnya keterampilan literasi informasi dan teknologi digital pada sebagian masyarakat Indonesia.

            Kelemahan dalam kapasitas literasi dan pengetahuan generasi yang akan menjadi tumpuan harapan era Indonesia Emas tentu patut dicemaskan. Sebab “kemampuan akses terhadap informasi dan exposure masyarakat terhadap berbagai macam informasi dan ideologi .. berpotensi menimbulkan pergeseran nilai di tengah masyarakat sehingga memungkinkan terjadinya konflik (Bappenas, 2019:14). Setiap manusia memiliki perangkat untuk berpikir, namun kegiatan berpikir tidak dapat menghasilkan keputusan tepat tanpa dasar pengetahuan dan keterampilan bernalar (Engstrom & Beliveau, 2021). Kepemilikan pengetahuan menjadi faktor penting dalam proses pengolahan informasi (Rachmiatie, Rahmafitria, & Larasati, 2022).

Ini adalah tantangan bagi para ilmuwan yang memproduksi pengetahuan untuk segera mengintensifkan komunikasi kepada masyarakat sebagai pengguna pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, selain fokus pada publikasi jurnal ilmiah. Komunikasi yang disebut sebagai komunikasi sains, komunikasi dari ilmuwan untuk menyebarkan pengetahuan kepada publik (Leßmöllmann, Dascal, & Gloning, 2020). Komunikasi sains menjadi penting dalam peningkatan literasi masyarakat bukan saja karena pengetahuan adalah public goods (White, 2014), melainkan juga karena pengetahuan adalah elemen pendukung partisipasi masyarakat dalam kehidupan kewargaannya (Ahmadi, Rachmiatie, & Nursyawal, 2019) juga agar tidak mudah terpengaruh informasi palsu (Pamuk, 2021). Dalam kanal Youtube The Conversation Indonesia, mantan Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, yang juga mantan Ketua Lembaga Eijkman Prof.dr. Sangkot Marzuki Ph.D. menyebut komunikasi sains di Indonesia juga penting karena pemerintah seharusnya mengambil kebijakan berbasis bukti ilmiah (Marzuki, 2020).

 

Mendefinisikan Komunikasi Sains

            Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penulis memandang komunikasi sebagai tindakan konstruktif manusia untuk memahami dunianya, seperti dipaparkan Piaget (1995:292). Sebagai bagian dari tindakan komunikasi, kajian komunikasi sains dapat ditemukan dalam banyak artikel jurnal, artikel majalah, buku, ensiklopedia, arsip digital, dan lain-lain sebagai bentuk telaah pustaka kajian ilmu komunikasi baik secara monodisiplin, multidisiplin, atau interdisiplin. Bahkan ada pula jurnal khusus yang fokus pada kajian komunikasi sains, seperti Jcom (jcom.sissa.it). Dengan bantuan teknologi informasi komunikasi yang telah berkembang pesat saat ini, seperti aplikasi mesin pencari artikel jurnal yang terbuka (free-to-use) di antaranya Publish and Perish, BASE (Bielefeld Academic Search Engine), OATD (Open Access Theses and Dissertations) atau mesin kecerdasan buatan (AI) seperti Consensus, Perplexity, Scispace, setiap orang dapat dengan mudah menemukan ribuan artikel dengan kata kunci atau topik kajian tertentu. Kemudian menggunakan alat bantu AI seperti Poe (poe.com) dan Reasearch Rabbit (researchrabbitapp.com) kumpulan ribuan artikel tersebut dapat dibaca dan diekstraksi isinya untuk menemukan masalah yang telah banyak dikaji serta sebaran tema penelitian yang telah dikerjakan selama ini. Pekerjaan mengumpulkan artikel yang biasanya dilakukan berminggu-minggu, saat ini dapat diselesaikan dalam sehari. Selanjutnya, membaca isi artikel yang telah diseleksi secara lengkap. Bagian ini nampaknya masih belum secara penuh dilayani oleh AI meski sudah banyak yang dapat meringkas isi pdf, website, video, audio, namun belum ada yang dapat menggunakan hasil bacaan itu ke dalam konteks penelitian yang hendak dirancang dan dilakukan. Apalagi merancang pemodelan kerangka pemikiran, walau sudah ada AI yang dapat membantu menggambar model mind-map. Nampaknya itu masih menjadi tugas otak manusia.

Dari sekian banyak data artikel, buku, dokumen, website, diketahui gagasan tentang komunikasi sains dari kampus dan ilmuwan kepada non-ilmuwan bukanlah hal baru (King & Rivett, 2015), ilmuwan membawa keahliannya ke dalam wacana dan kebijakan publik akibat kesenjangan antara perkembangan ilmu dengan masyarakat (Weingart, Joubert, & Connoway, 2021) dan menyumbang ke dalam mekanisme demokrasi deliberatif (Herzog, 2024) sudah berlangsung sejak berabad lalu.

Mengingat banyaknya publikasi tentang komunikasi sains tersebut, dalam bagian ini, pembahasan tentang lingkup riset, sejarah dan praktik atau model komunikasi sains di luar Indonesia tidak akan dibahas, sebab kajian komunikasi sains di Indonesia masih terbatas. Ini disebabkan, menurut pandangan penulis, padanan kata “science” ke dalam bahasa Indonesia menjadi “sains” adalah ambigu. Secara awam, “sains” dalam budaya Indonesia dipahami sebagai matematika dan ilmu alam (MIPA), sehingga ketika kajian komunikasi sains dilakukan di Indonesia, lingkupnya menjadi seputar MIPA, sebagai model pembelajaran sains Expert-Novice Dialog (Paojiah, Suhendar, & Nuranti, 2021) atau kompetensi siswa dalam menyampaikan proses sains (Dewi, Akbar, & Meitiani, 2022) atau penyebaran pengetahuan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Yuriawan, 2021).

Komunikasi sains bukan sekadar penyebaran pengetahuan ilmiah melalui penerbitan artikel di jurnal dengan pesan esoterik, melainkan juga upaya melibatkan publik lebih luas untuk mendukung pengembangan pengetahuan, mempengaruhi perilaku masyarakat, dan memastikan publik memahami dan mengadopsi kemajuan ilmu pengetahuan. Komunikasi sains adalah upaya untuk mempromosikan ilmu pengetahuan yang demokratis, di antaranya dengan mendorong keterbukaan, transparansi, integritas dan akuntabilitas peneliti,  penelitian dan pendampingan yang independen, dialog yang bermakna, kesetaraan dalam distribusi pengetahuan dan solusi teknologi (Hartomo & Cribb, 2002). Komunikasi sains bukanlah pemasaran ilmu pengetahuan, melainkan pembangunan peradaban. Komunikasi sains jika sebatas publikasi artikel jurnal ilmiah hanya membunuh pengetahuan secepat munculnya pengetahuan baru (Bernal, 1967:292).

Menurut Leßmöllmann (2020), komunikasi sains terbagi dua menjadi:

a.       Komunikasi Sains Internal: Melibatkan komunikasi dalam komunitas ilmiah, seperti mencatat, menulis jurnal lab, mendiskusikan data awal, dan menerbitkan dalam jurnal ilmiah.

b.      Komunikasi Sains Eksternal: Mengacu pada komunikasi pengetahuan ilmiah kepada publik yang lebih luas. Ini termasuk artikel sains populer, kuliah umum, museum sains, dan presentasi media.

 

 

 

 

 

 

 


Model 1. Kontinum Komunikasi Sains (Rekaan Penulis, 2024)

 

Serpihan Komunikasi Sains di Indonesia

Tahun 2021, jumlah publikasi jurnal internasional Indonesia meningkat hingga 600% dalam enam tahun terakhir, dari sebelumnya 8.000 publikasi per tahun menjadi 50 ribu publikasi per tahun. Data ini diungkap Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nizam, dalam sebuah seminar di Jakarta (Putra, 2021).

Lonjakan jumlah publikasi sebanyak itu cukup mengagumkan di kalangan akademisi Indonesia. Meski jika dibandingkan dengan kinerja produksi pengetahuan baru di negara lain, maka Indonesia tidak nampak dalam peta dunia seperti terlampir dalam gambar-gambar di bawah ini. Empat buah gambar di bawah memperlihatkan 3 wilayah paling rajin dalam menghasilkan pengetahuan baru melalui publikasi artikel jurnal akademik, yaitu: Eropa, Tiongkok, Amerika Serikat.


Gambar 1. Sebaran perguruan tinggi dengan volume publikasi riset

pada jurnal bereputasi internasional

menurut negara (Scimago Institution Rankings, 2024)


Gambar 2. Sebaran 500 Perguruan Tinggi

dengan volume publikasi riset terbanyak

pada jurnal bereputasi Internasional

menurut negara (Scimago Institution Rankings, 2024)


Gambar 3. Sebaran volume publikasi riset

yang dilakukan lembaga negara

pada jurnal bereputasi Internasional

berdasarkan negara (Scimago Institution Rankings, 2024)


Gambar 4. Sebaran 500 negara dengan publikasi riset terbanyak  

pada jurnal bereputasi Internasional (Scimago Institution Rankings, 2024)

 

museum

ada web asosiasi museum indonesia

 

festival ilmiah

festival karya ilmiah mahasiswa

pameran inovasi

lomba poster ilmiah

 

buku

ada data ikapi

 

publikasi karya ilmiah populer

data dari

 

Menurut tujuan penggunaannya, mengakses konten hiburan paling banyak dipilih peserta didik dengan persentase 86,65%. Lalu tujuan berikutnya bermedia sosial sebesar 66,68% dan mencari informasi atau berita 61,39%. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas BPS Maret 2023). Responden 345 ribu rumah tangga di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia.

Film animasi 2D karya anak bangsa berbiaya Rp.15M, bertema perjuangan diproduksi oleh MSV Pictures, sebuah studio animasi di bawah naungan STIMIK AMIKOM Yogyakarta. Dirilis pada 20 Agustus 2015.

Berhasil meraih sejumlah penghargaan, Best Animation di Milan International Film Festival 2017, Best Animation dalam Berlin International Film Festival 2017, Best Animation dalam Nice International Film Festival 2017, dan masih banyak lagi.

 

 

 

 

D: Potensi Komunikasi Sains

 

 

Tantangan Komunikasi Sains di Indonesia:

    * Tingkat literasi sains yang rendah

    * Ketidakpercayaan publik terhadap sains

    * Kurangnya infrastruktur dan sumber daya untuk komunikasi sains

    * Fragmentasi komunitas sains

    * Budaya yang lebih menyukai tradisi dan kepercayaan daripada sains

Peluang Komunikasi Sains di Indonesia:

    * Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi

    * Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya sains

    * Dukungan pemerintah untuk komunikasi sains

    * Tumbuhnya komunitas online dan media sosial yang fokus pada sains

 

 

 

C: Kesimpulan: Masa Depan Komunikasi Sains di Indonesia

Komunikasi sains di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan, namun juga terdapat banyak peluang untuk meningkatkan efektivitasnya. Upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas sains, dan masyarakat, diperlukan untuk meningkatkan komunikasi sains di Indonesia dan memanfaatkan sains untuk kemajuan bangsa.

 

Rekomendasi: untuk meningkatkan komunikasi sains di Indonesia, seperti meningkatkan pendidikan sains dan literasi, membangun kepercayaan publik terhadap sains, meningkatkan partisipasi publik dalam kegiatan sains, memperkuat infrastruktur dan sumber daya untuk komunikasi sains, membangun kolaborasi antara komunitas sains dan pemangku kepentingan lainnya, dan mempromosikan budaya ilmiah dalam masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

 

Ahmadi, D., Nursyawal, & Rachmiatie, A. (2019). Public Participation Model for Public Information Disclosure. Jurnal Komunikasi: Malaysian Journal of Communication, 35(4), 305-321. doi:https://doi.org/10.17576/JKMJC-2019-3504-19

Ajengrastri, A. (2019). Indonesian survey explores the spread of misinformation on WhatsApp. International Journalists’ Network.

Badan Pusat Statistik. (2018). Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045. Jakarta: BPS.

Badan Pusat Statistik. (2023). Profil Kemiskinan 2023. Jakarta: BPS.

Badan Pusat Statistik. (2024). Pendapatan Nasional Indonesia. Jakarta: BPS.

Bappenas. (2019). Background Study: Visi Indonesia 2045. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

Bernal, J. D. (1967). The Social Function of Science. Cambridge: The M.I.T. Press.

Dewi, R., Akbar, B., & Meitiani. (2022). Analisis Kemampuan Komunikasi Sains Siswa Pada Pembelajaran Biologi Kelas X. Al-Nafis: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi, 1(2), 1-7. Diambil kembali dari http://dx.doi.org/10.46339/al-nafis.v2i1.763

Engstrom, E., & Beliveau, R. (2021). Gramsci and Media Literacy: Critically Thinking about TV and the Movies. London: Lexington Books.

Hartomo, T. S., & Cribb, J. (2002). Sharing Knowledge a Guide to Effective Science Communication. Collingwood: CSIRO PUBLISHING.

Herzog, L. (2024). Citizen Knowledge: Markets, Experts, and the Infrastructure of Democracy. New York: Oxford University Press.

Hidranto, F. (2023, Juli 14). Mewujudkan Indonesia Emas di 2045. Diambil kembali dari Portal Informasi Indonesia: https://indonesia.go.id/kategori/editorial/7269/mewujudkan-indonesia-emas-di-2045?lang=1

Indriani. (2016, 12 6). Peringkat PISA Indonesia alami peningkatan. Diambil kembali dari Kantor Berita Indonesia ANTARA: https://www.antaranews.com/berita/600165/peringkat-pisa-indonesia-alami-peningkatan

Kemendikbudristek. (2023). Laporan PISA 2022 dan Pemulihan Pembelajaran di Indonesia. Jakarta: Kemendikbudristek.

King, L., & Rivett, G. (2015). Engaging People in Making History: Impact, Public Engagement and the World Beyond the Campus. History Workshop Journal, 80(1), 218–233. Diambil kembali dari https://doi.org/10.1093/hwj/dbv015

Leßmöllmann, A., Dascal, M., & Gloning, T. (2020). Communication Science: volume 17. Boston/Berlin: Walter de Gruyter Inc.

Mardjianto, F., Pandji, Y., & Indrasari, T. (2022). Fact-Check Audience in Indonesia 2022. Jakarta: AMSI, GBI, CekFakta. Diambil kembali dari Turnbackhoax.id.

Marzuki, S. (2020, September 24). Saatnya Ilmuwan Bersuara: Pentingnya Komunikasi Sains Dalam Mendorong Kebijakan Berbasis Bukti. Diambil kembali dari The Conversation Indonesia - Youtube : https://youtu.be/LbQGRk3bBDc

OECD. (2016). Jakarta (Indonesia) : Country Note - Skills Matter: Further Results from the Survey of Adult Skills. Paris: OECD.

OECD. (2019). Indonesia - Country Note - PISA 2018 Results, Volume I-III. Paris: OECD.

OECD. (2024, Juli 04). Programme for International Student Assessment (PISA). Diambil kembali dari OECD: https://www.oecd.org/en/about/programmes/pisa.html

OECD. (2024, Juli 04). Survey of Adult Skills (PIAAC). Diambil kembali dari OECD: https://www.oecd.org/en/about/programmes/piaac.html#:~:text=The%20Programme%20for%20the%20International%20Assessment%20of%20Adult,of%20PIAAC%20is%20the%20Survey%20of%20Adult%20Skills.

Pamuk, Z. (2021). Politics and Expertise how to use science in a democratic society. New Jersey: Princeton University Press.

Paojiah, E., Suhendar, & Nuranti, G. (2021). Expert Novice Dialog (END) Di Masa Pandemi Covid-19 Untuk Menilai Kemampuan Komunikasi Sains. BIODIK: Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi, 7(3), 93-104.

Piaget, J. (1995). Sociological Studies. East Sussex: Routledge.

Putra, I. P. (2021, Desember 09). Jumlah Publikasi Jurnal Internasional Indonesia Meningkat 600% Dalam 6 Tahun. Diambil kembali dari Media Indonesia: https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/ybD4LZZb-jumlah-publikasi-jurnal-internasional-indonesia-meningkat-600-dalam-6-tahun

Rachmiatie, A., Rahmafitria, F., & Larasati, A. (2022). The role of knowledge, attitude, and subjective norm on Muslim tourists' behavior in choosing Halal hotel and restaurants: The Indonesia case. Islam, Media and Education in the Digital Era, 580-585.

Ramadhan, A., & Santosa, B. (2023, Juni 15). Jokowi Luncurkan Rancangan RPJPN 2025-2045, Panduan Meraih Cita-cita Indonesia Emas. Diambil kembali dari Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2023/06/15/10460381/jokowi-luncurkan-rancangan-rpjpn-2025-2045-panduan-meraih-cita-cita

Thorn, M., & Curnow, S. (2021, Januari 16). What You Share Defines You : Indonesia Has World’s Biggest Fact-Checking Network. Diambil kembali dari Jakarta Globe: https://jakartaglobe.id/news/what-you-share-defines-you-indonesia-has-worlds-biggest-factchecking-network

Tim Kalimasada. (2024, Juni 27). [SALAH] PRESIDEN JOKOWI DAN KAPOLRI COPOT POLDA JABAR AKIBAT BATALKAN SIDANG PEGI. Diambil kembali dari Turnbackhoax.id: https://turnbackhoax.id/2024/06/27/salah-presiden-jokowi-dan-kapolri-copot-polda-jabar-akibat-batalkan-sidang-pegi/

Webster, A. (1988). Introduction to The Sociology of Development. London: Macmillan Education ltd.

Weingart, P., Joubert, M., & Connoway, K. (2021). Public engagement with science: Origins, motives and impact in academic literature and science policy. PLoS ONE, 16(7). Diambil kembali dari https://doi.org/10.1371/journal.pone.0254201

White, A. (2014). Digital Media and Society Transforming Economics, Politics and Social Practices. Hampshire: Palgrave Macmillan.

Yuriawan, K. (2021). Strategi Komunikasi Sains LIPI dalam Kegiatan Diseminasi Pupuk Organik Hayati Kepada Masyarakat. Jurnal Komunikasi Pembangunan, 19(02), 97-110. Diambil kembali dari https://doi.org/10.46937/19202136320