30 Agustus 2025

Kematian Affan dan Runtuhnya Kepercayaan Publik kepada Polisi

Kematian Affan Kurniawan dan Runtuhnya Kepercayaan Publik pada...: Tragedi Affan Kurniawan harus menjadi momentum untuk transformasi komunikasi institusional yang lebih transparan, empati, dan akuntabel.

25 Agustus 2025

Deepfake "Gaji Guru Beban Negara": Bahasa Resmi vs Sentimen Masyarakat

Baca tulisan lengkapnya di :

Deepfake Gaji Guru Beban Negara: Bahasa Resmi vs Sentimen Mas...: Mengapa kata “beban” oleh pembuat video deepfake Sri Mulyani lebih dipercaya oleh publik daripada kata “tantangan” sebagai bahasa resmi pembuat kebijakan negara..

20 Agustus 2025

AI, Kompleksitas Teknologi dan Kewajiban Ilmuwan

Penulis: Nursyawal, M.I.Kom

 

Pendahuluan

Belum lama ini, penulis menjadi juri dalam perlombaan seni budaya antarpelajar sekolah menegah atas tingkat propinsi yang kemudian masuk ke tingkat nasional. Pengalaman yang menarik karena langsung menohok pada tantangan jaman, yaitu penggunaan kecerdasan buatan alias akal imitasi alias artificial intellegence (AI). Sejumlah juri khususnya bidang karya cipta naskah sastra, naskah informasi, naskah musik dan desain visual, menemukan banyak karya peserta lomba yang ditengarai sebagai hasil karya AI. Karenanya sejumlah juri harus melakukan wawancara langsung kepada peserta melalui teknologi rapat virtual untuk mengonfirmasi. Dari hasil wawancara itulah sejumlah karya terkonfirmasi bukan buatan yang bersangkutan karena tidak sanggup dijelaskan dengan baik olehnya. Berbeda dengan lomba yang melibatkan aktifitas fisik seperti bernyanyi, membaca puisi, acting, menari, cabang lomba ini belum tersentuh banyak oleh AI.

Kenyataan ini adalah gambaran masyarakat awam tidak memahami adanya batasan dan aturan dalam pemanfaatan AI. Awam juga tidak memahami bagaimana AI memiliki keterbatasan sebagai machine learning, yaitu kemampuan sistem untuk belajar dari data tanpa diprogram secara eksplisit. Dalam proses ini, algoritma dilatih menggunakan data dalam jumlah besar untuk mengenali pola dan membuat prediksi. Lebih lanjut, neural networks atau jaringan saraf tiruan meniru cara kerja otak manusia dalam memproses informasi, memungkinkan AI untuk melakukan tugas-tugas seperti pengenalan wajah, penerjemahan bahasa, menjawab pertanyaan, membuat analisis data, membuat gambar dan video. Meski terdengar canggih, konsep-konsep ini sering kali abstrak dan teknis, sehingga menyulitkan publik untuk memahami bagaimana AI sebenarnya bekerja.

Kesulitan pemahaman ini diperparah oleh cara teknologi AI dikomunikasikan di media. Banyak narasi yang menggambarkan AI sebagai entitas yang “cerdas” atau “berpikir sendiri”, padahal kenyataannya AI hanya mengolah data berdasarkan algoritma yang dirancang oleh manusia. Ketika masyarakat tidak memahami batasan dan cara kerja AI, muncul risiko misinformasi, misalnya, menganggap hasil dari AI sebagai 100 persen benar tanpa mempertanyakan proses di baliknya. Selain itu, bias dalam data yang digunakan oleh AI dapat menghasilkan output yang diskriminatif atau tidak akurat, yang jika tidak dijelaskan dengan baik, bisa menimbulkan dampak sosial yang serius.

Dalam konteks komunikasi teknologi, tantangan etika menjadi sangat penting. Transparansi dalam menjelaskan bagaimana AI bekerja dan akuntabilitas dalam penggunaannya harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu tahu bahwa AI bukanlah alat yang netral. Ia bisa dipengaruhi oleh data yang bias, desain algoritma yang tidak adil, atau tujuan komersial dari pengembangnya. Tanpa komunikasi yang jujur dan terbuka, publik bisa terjebak dalam penggunaan teknologi yang tidak sepenuhnya mereka pahami, yang berpotensi merugikan mereka secara pribadi maupun kolektif.

Contoh Penggunaan AI Dalam Keseharian

Belum lama di Indonesia muncul banyak contoh kasus penggunaan teknologi yang memungkinkan manipulasi video secara realistis, yang menimbulkan kekhawatiran dalam hal penyebaran hoaks atau memancing gugatan pencemaran nama baik. Meski saat ini lebih dominan digunakan sebagai medium ekspresi berpendapat dalam bentuk satire terhadap kekuasaan yang tidak pro-rakyat. Sementara sistem rekomendasi di platform belanja online atau media sosial sering kali membentuk preferensi pengguna tanpa mereka sadari, memakai data pengguna yang dikumpulkan secara diam-diam. Beberapa kota besar seperti Jakarta dan Bandung mulai menerapkan sistem AI untuk memantau lalu lintas secara real-time dan mengatur lampu lalu lintas secara otomatis. Masyarakat sering kali tidak mengetahui bahwa data pergerakan mereka sedang direkam dan dianalisis, menimbulkan isu transparansi penggunaan data pribadi.

Aplikasi seperti Ruangguru dan Quipper mulai mengintegrasikan AI untuk menjawab soal dan memberikan penjelasan otomatis. Akibatnya siswa bisa bergantung pada jawaban instan tanpa memahami konsep, padahal tidak semua penjelasan AI akurat atau sesuai kurikulum nasional. Banyak AI yang menawarkan layanan instan, seperti menulis Essay, karya ilmiah, melukis, mengedit video dan suara, bahkan membuat musik dengan harga beberapa Dollar AS. Lembaga survei dan tim kampanye politik juga menggunakan crawler AI untuk membaca opini publik, padahal kata-kata tertentu memiliki bias, seperti teroris, penjajah, radikal, dan hasil analisis bisa disalahgunakan untuk manipulasi opini publik. Saat ini juga e-commerce dan perbankan di Indonesia menggunakan chatbot berbasis AI untuk melayani pelanggan yang sering kali tidak menyadari bahwa mereka berbicara dengan mesin, dan informasi yang diberikan AI sangat terbatas atau tidak dapat memahami konteks informasi. Ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi teknologi yang etis dan bertanggung jawab.

Strategi Ilmuwan dan Komunikator Sains

Mengkomunikasikan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) kepada publik awam bukanlah tugas yang mudah. Ilmuwan dan komunikator sains perlu mengembangkan strategi yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik dan mudah dipahami. Salah satu pendekatan yang efektif adalah penggunaan narasi—menceritakan bagaimana AI digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam aplikasi belanja online atau navigasi transportasi. Narasi membantu mengaitkan teknologi dengan pengalaman nyata, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Selain narasi, analogi juga menjadi alat penting. Misalnya, menjelaskan machine learning sebagai “cara belajar seperti anak kecil yang melihat banyak gambar kucing dan akhirnya tahu mana yang kucing dan mana yang bukan.” Analogi seperti ini membantu menyederhanakan konsep teknis tanpa menghilangkan esensinya. Visualisasi, seperti infografik, animasi, dan simulasi interaktif, juga sangat efektif dalam menjelaskan proses kerja AI yang kompleks. Menurut Guzman & Lewis (2022) dalam Journal of Communication, pendekatan visual dan naratif terbukti meningkatkan pemahaman publik terhadap teknologi AI secara signifikan.

Peran media, influencer, dan edukator digital juga tidak bisa diabaikan. Di era digital, informasi tentang AI lebih sering diperoleh dari YouTube, TikTok, atau Instagram daripada dari jurnal ilmiah. Oleh karena itu, kolaborasi antara ilmuwan dan kreator konten menjadi penting. Andrea Guzman (2023) melalui buku Communicating Artificial Intelligence: Theory and Practice, menekankan bahwa edukator digital memiliki potensi besar untuk membentuk persepsi publik tentang AI, asalkan mereka dibekali dengan informasi yang akurat dan etis.

Salah satu studi kasus global yang menarik adalah kampanye edukasi AI oleh Google DeepMind, yang membuat video animasi dan artikel populer untuk menjelaskan konsep reinforcement learning kepada publik. Di Indonesia, beberapa komunitas seperti Indonesia AI Society dan Kelas Pintar telah mulai mengadakan webinar dan konten edukatif tentang AI untuk pelajar dan guru. Meski masih terbatas, inisiatif ini menunjukkan bahwa komunikasi sains yang efektif bisa dilakukan dengan pendekatan yang kreatif dan kolaboratif.

Penutup

Untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan secara bijak oleh masyarakat Indonesia, diperlukan strategi komunikasi sains yang lebih inklusif, etis, dan berkelanjutan. Pertama, para ilmuwan dan pengembang teknologi perlu lebih aktif berkolaborasi dengan komunikator sains, jurnalis, dan kreator konten digital untuk menyampaikan informasi tentang AI secara akurat dan menarik. Komunikasi tidak boleh berhenti pada aspek teknis, tetapi juga harus mencakup dimensi sosial dan etika dari penggunaan teknologi tersebut.

Kedua, pemerintah dan institusi pendidikan perlu mendukung literasi AI sejak dini. Kurikulum sekolah dan kampus dapat memasukkan materi tentang cara kerja AI, dampaknya terhadap masyarakat, serta bagaimana menilai informasi teknologi secara kritis. Selain itu, pelatihan bagi guru, dosen, dan tenaga kependidikan tentang komunikasi teknologi juga penting agar mereka dapat menjadi agen literasi digital yang efektif.

Ketiga, platform digital dan media sosial perlu lebih bertanggung jawab dalam menyaring dan menandai konten yang mengandung misinformasi tentang AI. Kolaborasi antara regulator, perusahaan teknologi, dan masyarakat sipil sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat dan transparan. Seperti yang disampaikan oleh Scheufele & Krause (2023), dalam artikel berjudul Navigating the ethics of science communication in the age of AI, pada jurnal Public Understanding of Science, komunikasi sains yang etis adalah fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap teknologi baru.

Sebagai penutup, AI adalah teknologi yang sangat potensial, namun juga kompleks dan penuh tantangan. Tanpa komunikasi yang tepat, publik bisa terjebak dalam pemahaman yang keliru atau bahkan dimanipulasi oleh narasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, membangun komunikasi sains yang jujur, inklusif, dan etis bukan hanya tanggung jawab ilmuwan, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa kemajuan teknologi benar-benar membawa manfaat bagi semua, bukan hanya segelintir pihak.

 

18 Agustus 2025

Kumpulan Naskah Lama Radio Mara FM Bandung

Kompilasi Naskah Lama  Radio Mara FM Bandung

---------------------------------------------

Reporter : Nursyawal

----------------------------

Nama Program Siaran: News Bulletin

-----------------------------

(2001)

Anchor:

Sejumlah pejabat baru Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Jawa Barat mengikuti rapat koordinasi di Bandung hari ini// Reporter Nursyawal melaporkan//

Reporter:

Rapat koordinasi ini dibuka oleh Kepala Badan Koordinasi Keleuarga Berencana Jawa Barat/ Doktorandus Maman Sunjana pagi tadi// Diikuti 22 kepala seksi supervisi kota dan kabupaten se-Jawa Barat// Selanjutnya rapat ini dipimpin Kepala Bidang Supervisi BKKBN Jabar// Menurut keterangan staf seksi advokasi/ komunikasi/ informasi/ dan edukasi BKKBN Jabar/ Doddy Hidayat/ rapat konsolidasi ini dilakukan/ karena 60 persen pejabat di BKKBN Jabar saat ini/ adalah pejabat baru/ setelah perombakan struktur organisasi dan paradigma/ sehingga para pejabat itu membutuhkan orientasi tugas// Dari kantor BKKBN Jabar/ Nursyawal melaporkan///

--------------------------------------------------------

Anchor :

Setelah krisis moneter berlalu/ peserta Keluarga Berencana di Jawa Barat/ kini mulai aktif kembali// Reporter Nursyawal melaporkan//

Reporter:

Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia antara tahun 98-99/ banyak peserta KB yang drop out// Menurut staf seksi advokasi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Jawa Barat/ Doddy Hidayat/ pada saat itu/ pemerintah tidak sanggup menyediakan alat kontrasepsi apapun/ kecuali IUD// Bahan pemerintah sempat membentuk posko krisis KB/ karena kuatir terjadi ledakan kelahiran// Namun kekuatiran itu tidak terjadi/ karena keluarga Indonesia nampaknya memiliki cara sendiri/ untuk mencegah kehamilan tanpa alat kontrasepsi// Menurut Doddy/ mulai tahun ini/ pemerintah kembali memiliki kemampuan untuk menyediakan alat kontrasepsi// Sehingga diharapkan di Jawa barat/ jumlah peserta KB kembali meningkat// Berdasarkan rapat penelaahan program KB Nasional tahun 2021/ yang berlangsung kemarin/ dari hampir 7 juta pasangan suami istri yang ada di Jawa barat/ 73 persen telah kembali menjadi peserta aktif// Dari kantor BKKBN Jabar/ Nursyawal melaporkan///

------------------------------------------------------------

Anchor: 

Direksi PT Dirgantara Indonesia siap menjawab tuntutan hukum akibat pemecatan dua orang karyawannya// Reporter Nursyawal melaporkan//

Reporter: 

Direktur Utama PT DI Jusman Syafii Djamal/ kepada reporter Radio Mara di kantornya sore tadi/ mengatakan/ dengan senang hati akan menjawab tuntutan hukum dua orang karyawannya yang di-PHK kemarin// Menurut Jusman/ proses PHK sudah sesuai prosedur hukum/ sebab sebelumnya direksi sudah pernah memperingatkan karyawan untuk menghentikan aksi mogok kerja mereka// Selain itu/ menurut Jusman/ direksi sudah berkonsultasi dengan Dinas Tenaga Kerja sebelum melakukan PHK// Dalam konsultasi itu terungkap/ aksi mogok kerja tanpa batas waktu/ adalah aksi ilegal// Apalagi/ menurut Jusman/ tuntutan karyawan untuk menaikkan gaji 200 persen dan mengganti direksi/ tidak mungkin dipenuhi// Untuk news buletin Radio Mara/ Nursyawal melaporkan//

------------------------------------------------

Anchor: 

Teknologi informasi tidak hanya dapat digunakan untuk mengirim dan mengolah data di komputer/ melainkan juga dapat digunakan untuk menemukan kendaraan yang hilang dicuri// Reporter Nursyawal melaporkan//

Reporter: 

Menurut Guru Besar Institut Teknologi Bandung/ Harijono Djojodihardjo/ masyarakat Indonesia belum memanfaatkan teknologi informasi secara optimal// Di depan peserta diskusi pemanfaatan ruang angkasa bagi pembangunan manusia/ di Aula ITB pagi tadi/ Harijono mengatakan/ teknologi informasi yang saat ini sudah berkembang pesat/ bukan perangkat untuk para ahli komputer saja/ tetapi bisa juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari// Harijono mencontohkan/ teknologi GPRS yang juga dapat digunakan untuk menemukan kendaraan yang dicuri// Dengan menanam alat kecil di dalam kendaraan/ polisi dengan memakai satelit bisa menemukan kembali kendaraan yang dicuri saat itu juga/ tanpa perlu bantuan dukun// Walau kendaraan itu disembunyikan di tengah hutan terpencil sekalipun// Untuk news buletin radio mara/ Nursyawal melaporkan//

================================

Nama Program Siaran: Bandung Kita Hari Ini

-----------------------------------------

(2001)

Anchor:

Keluarga Indonesia bulan ini memulai kegiatan baru/ yaitu saatnya anak-anak mulai masuk sekolah atau kuliah di perguruan tinggi pilihannya// Reporter Nursyawal melaporkan untuk Bandung Kita Hari Ini///

Reporter:

Di siang yang terik ini/ lalu lintas Jalan Surapati Bandung/ nampak semakin padat// Mobil motor hiruk pikuk/ saling berebut jalan// Jika Anda pernah menyusuri Jalan Surapati/ di trotoar sudut jalan antara Jalan Surapati dan Jalan Tilil/ tentu pernah melihat jejaran meja dan kursi kayu kecil berwarna cokelat atau kuning pernis kayu// Di situlah/ tempat saya berdiri saat ini/ suasana terasa berbeda// Lebih teduh dan tenang// Saya berada di dalam sebuah tenda terpal berangka bambu yang teduh// Di dalam tenda ini bertumpuk kayu-kayu albasia serta kursi dan meja kayu yang nampak belum selesai dikerjakan///

Di atas rerumputan/ di dalam tenda ini/ nampak tiga orang pria sedang menikmati nasi bungkus/ makan siang mereka// Di antara mereka/ seorang pria paruh baya/ berjanggut dan tubuh kurus// Namanya Dede Abdullah// Aslinya dari Garut/ anaknya lima/ istri dua// Seluruh keluarga berada di Garut// Pak Dede adalah pemilik tenda ini// Sejak tiga tahun terakhir/ ia menjadi perajin mebel murah untuk mahasiswa// Meja/ kursi/ lemari pakaian/ dipan/ pokoknya apa saja yang dibutuhkan mahasiswa indekos/ siap ia buatkan dari bahan kayu///

Tenda ini/ adalah segalanya untuk Pak Dede// Bengkel/ toko/ dan jika malam tiba/ menjadi tempat beristirahat// Sekali seminggu ia kembali ke kampung membawa uang// Pak Dede tidak pernah menghitung berapa modal usahanya// Tapi ia ingat/ modalnya tidak pernah habis// Setiap minggu ia bisa membawa pulang uang keuntungan yang cukup untuk keluarga besarnya di Garut// Apalagi bulan Juli dan Agustus ini/ pesanan mebel meningkat drastis// Pada bulan-bulan ini/ para mahasiswa baru/ mulai menempati rumah kosnya dan mengisi dengan mebel sesuai kebutuhan dan ukuran ruangan// Karenanya/ ukuran dan desain mebel bikinannya tidaklah standar// Semua tergantung permintaan// Begitu pesanan selesai dan dibayar/ keuntungan langsung dibagi rata dengan para pekerjanya///

Bung/ Nona/ dan Nyonya/ meski Pak Dede adalah pemilik tenda dan juga membayar iuran yang dipungut oknum kecamatan untuk menempati jalur hijau/ trotoar jalan ini/ namun Pak Dede tidak akan memperoleh pembagian keuntungan jika tidak ikut mengerjakan sebuah pesanan// Solidaritas/ begitu kental terasa di tenda yang sesak oleh bubuk gergaji dan potongan kayu/ namun teduh ini// Solidaritas pula yang nampak ketika mereka bersama-sama menyantap nasi bungkus siang ini///

Dari sudut Jalan Surapati dan Jalan Tilil/ saya Nursyawal melaporkan untuk Bandung Kita Hari Ini// Kembali ke rekan ... di studio///

--------------------------------------------------

Anchor:

Konferensi Internasional Budaya Sunda pertama digelar di Gedung Merdeka Bandung// Mengungkap fakta-fakta baru yang belum pernah diketahui oleh orang Sunda// Reporter Nursyawal melaporkan untuk Bandung Kita Hari Ini///

Reporter:

Terima kasih rekan ...//

Bung/ Nona dan Nyonya/ sejak kemarin/ Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika Bandung/ menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Internasional Budaya Sunda yang pertama// Gedung bersejarah ini/ seolah ingin kembali membuat sejarah/ dengan mengundang banyak peneliti dari mancanegara// Mulai dari Swedia/ Amerika Serikat/ dan Jepang// Hampir seluruh ruangan di gedung megah ini dipakai/ menampilkan para peneliti budaya Sunda/ dengan beragam topik// Ada yang menampilkan video/ ada yang menampilkan foto-foto/ ada yang mengungkapkan naskah-naskah kuno dari sastrawan Sunda/ yang belum pernah diketahui bahkan oleh Urang Sunda sekalipun// Sementara ruang bangsal utama Gedung Merdeka diisi lantunan mantera-mantera kuno Sunda yang saya yakini naskahnya tidak pernah diketahui oleh kaum remaja etnis Sunda//

Pada sebuah sesi diskusi/ seorang perempuan peneliti Australia/ Christine Campbell/ mengungkap fakta adanya seorang novelis wanita etnis Sunda/ yang mendahului Kartini dalam mengangkat isu kemerdekaan kaum perempuan// Naskah novelnya hanya ada di Darwin Australia// Christine mengatakan/ sejak awal abad sembilan belas/ perempuan Sunda sudah lebih maju pikirannya dibanding perempuan dari etnis lain di Indonesia// Salah satunya novelis bernama Hamidah Hasan/ seorang perempuan Sunda yang menikah dengan aktivis politik Singapura beretnis Melayu dan tinggal di Singapura// Dalam novelnya/ Hamidah telah mengemukakan ide kebebasan bagi kaum perempuan// Jadi menurut Christine/ selain Dewi Sartika/ etnis Sunda banyak memiliki pejuang kebebasan perempuan/ namun tidak banyak diakui dan diketahui oleh etnis Sunda sekalipun///

Di ruangan lain/ seorang peneliti Swedia/ Mason C. Hoadley/ membahas struktur masyarakat tradisional Sunda yang sudah tertata rapi/ namun terancam konflik dengan sistem hukum positif Indonesia// Menurut Mason/ adat Sunda telah berfungsi menjaga keseimbangan dalam masyarakat dan manajemen konflik// Mason khawatir/ jika adat tidak segera diakomodasi ke dalam hukum positif Indonesia/ dapat menimbulkan konflik/ karena hukum positif Indonesia menganut pendekatan hukum Barat// Misalnya dalam hukum agraria/ karena adat Sunda telah mengatur pola dan struktur ruang hunian dan hutan sebagai warisan// Hukum positif harus mengadopsi konsep adat/ untuk menghindari konflik//

Konferensi ini/ nampak betul seperti membuka kotak harta karun kebudayaan Sunda/ kepada pewarisnya// Namun sayang/ untuk mengikuti konferensi ini sebagai peserta/ masyarakat umum harus membayar tiga ratus ribu rupiah/ dan seratus lima puluh ribu rupiah untuk mahasiswa// Meski harga cukup mahal/ peserta nampak penuh// Di setiap akhir sesi/ koridor yang menghubungkan antar ruangan di gedung merdeka ini/ sesak oleh peserta//

Dari Gedung Merdeka Bandung/ saya Nursyawal melaporkan untuk Bandung Kita Hari Ini// Kembali ke rekan ... di studio///

----------------------------------

Anchor: 

Sore ini/ untuk Bandung Kita Hari Ini/ reporter Nursyawal mengajak kita menjenguk sebuah kampus yang tidak biasa/// Silakan/ laporan Anda//

Reporter: 

Terima kasih/ rekan ...// Bung/ Nona/ dan Nyonya/ tadi siang saya sempat berkunjung ke sebuah kampus di Jalan Nias Bandung// Kita mengenalnya dengan gedung fakultas filsafat Universitas Katolik Parahyangan// Seperti halnya kampus filsafat lain yang merupakan sekolah teologi Kristen di Indonesia/ di kampus ini/ kita tidak akan menjumpai hal-hal yang biasa kita temui di kampus lain// Kita tidak akan menemukan mahasiswa mahasiswi dengan pakaian trendi dan penuh gaya/ serta rambut berwarna-warni// Juga tidak akan menemukan mahasiswa yang sibuk dengan ponsel masing-masing// Takkan dijumpai jejeran mobil di halaman parkir/ bahkan motor sekalipun// Saya hanya melihat beberapa motor terparkir di halaman kampus yang lebih banyak ditumbuhi pepohonan ini// Motor-motor itu pun ternyata milik satpam yang sedang bertugas// Di kampus ini/ kita hanya akan melihat deretan sepeda di halaman parkir/ dengan mahasiswa berpakaian kasual/ kemeja lengan panjang polos dan celana bahan berwarna gelap// Ketika bubaran kuliah/ maka kita akan melihat pemandangan tidak biasa di zaman modern ini/ yaitu rombongan mahasiswa menaiki sepedanya keluar lingkungan kampus// Sepeda-sepeda itu menerobos jajaran Kijang/ Zebra/ Panther/ Kodok/ Kuda/ dan Jangkrik/ di jalan raya/// 

Di saat orang lain berebut memiliki alat-alat kenyamanan hidup/ para mahasiswa filsafat ini/ jadi nampak sedang menyiksa diri// Dan ini diakui oleh Pembantu Dekan III fakultas filsafat Universitas Katolik Parahyangan/ Romo Fabianus// Mahasiswa di fakultasnya memang tidak boleh memiliki ponsel/ tidak boleh memakai mobil atau motor/ kecuali dalam keadaan darurat/ dan tidak boleh memakai pakaian mahal// Bahkan di asrama/ mahasiswa hanya boleh mendengar radio dan menonton televisi beberapa jam saja di hari Minggu// Meski bukan aturan akademik/ hal itu menjadi tradisi spiritual bagi mahasiswa// Menurut Romo Fabi/ jika sang mahasiswa tidak sanggup meninggalkan ketergantungannya pada alat bantu kenyamanan hidup itu/ maka dipastikan ia tidak akan sanggup menyelesaikan studinya/ dan menjadi seorang Pastor/// 

Proses mengekang diri dari kenyamanan hidup duniawi ini disebut askese// Selain hidup sederhana/ para calon pastor ini melatih diri dengan banyak hal spiritual lain// Sebelum akhirnya menjadi pastor dan hidup selibat/ alias tidak kawin// Menurut Romo Fabi/ proses ini akan membebaskan diri seorang calon pastor dari keberpihakannya pada kehidupan duniawi/ sehingga hidupnya dapat menjadi teladan// Menurut Romo Fabi/ setidaknya/ tradisi mengendarai sepeda ke mana-mana di tengah kesemrawutan lalu lintas Kota Bandung saat ini/ dapat menjadi penggoda warga kota untuk juga memakai sepeda ke mana-mana// Berkeringat/ sehat/ dan tidak akan termakan macet///

Dari kampus fakultas filsafat Universitas Parahyangan/ Nursyawal melaporkan untuk Bandung Kita Hari Ini// Kembali ke rekan ... di studio///

----------------------