Penulis: Nursyawal, M.I.Kom
Pendahuluan
Belum lama ini, penulis menjadi juri dalam perlombaan seni
budaya antarpelajar sekolah menegah atas tingkat propinsi yang kemudian masuk
ke tingkat nasional. Pengalaman yang menarik karena langsung menohok pada tantangan
jaman, yaitu penggunaan kecerdasan buatan alias akal imitasi alias artificial
intellegence (AI). Sejumlah juri khususnya bidang karya cipta naskah sastra, naskah
informasi, naskah musik dan desain visual, menemukan banyak karya peserta lomba
yang ditengarai sebagai hasil karya AI. Karenanya sejumlah juri harus melakukan
wawancara langsung kepada peserta melalui teknologi rapat virtual untuk
mengonfirmasi. Dari hasil wawancara itulah sejumlah karya terkonfirmasi bukan
buatan yang bersangkutan karena tidak sanggup dijelaskan dengan baik olehnya. Berbeda
dengan lomba yang melibatkan aktifitas fisik seperti bernyanyi, membaca puisi,
acting, menari, cabang lomba ini belum tersentuh banyak oleh AI.
Kenyataan ini adalah gambaran masyarakat awam tidak
memahami adanya batasan dan aturan dalam pemanfaatan AI. Awam juga tidak
memahami bagaimana AI memiliki keterbatasan sebagai machine learning,
yaitu kemampuan sistem untuk belajar dari data tanpa diprogram secara
eksplisit. Dalam proses ini, algoritma dilatih menggunakan data dalam jumlah
besar untuk mengenali pola dan membuat prediksi. Lebih lanjut, neural
networks atau jaringan saraf tiruan meniru cara kerja otak manusia dalam
memproses informasi, memungkinkan AI untuk melakukan tugas-tugas seperti
pengenalan wajah, penerjemahan bahasa, menjawab pertanyaan, membuat analisis
data, membuat gambar dan video. Meski terdengar canggih, konsep-konsep ini
sering kali abstrak dan teknis, sehingga menyulitkan publik untuk memahami
bagaimana AI sebenarnya bekerja.
Kesulitan pemahaman ini diperparah oleh cara teknologi AI
dikomunikasikan di media. Banyak narasi yang menggambarkan AI sebagai entitas
yang “cerdas” atau “berpikir sendiri”, padahal kenyataannya AI hanya mengolah
data berdasarkan algoritma yang dirancang oleh manusia. Ketika masyarakat tidak
memahami batasan dan cara kerja AI, muncul risiko misinformasi, misalnya,
menganggap hasil dari AI sebagai 100 persen benar tanpa mempertanyakan proses
di baliknya. Selain itu, bias dalam data yang digunakan oleh AI dapat
menghasilkan output yang diskriminatif atau tidak akurat, yang jika tidak
dijelaskan dengan baik, bisa menimbulkan dampak sosial yang serius.
Dalam konteks komunikasi teknologi, tantangan etika menjadi
sangat penting. Transparansi dalam menjelaskan bagaimana AI bekerja dan
akuntabilitas dalam penggunaannya harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu
tahu bahwa AI bukanlah alat yang netral. Ia bisa dipengaruhi oleh data yang
bias, desain algoritma yang tidak adil, atau tujuan komersial dari
pengembangnya. Tanpa komunikasi yang jujur dan terbuka, publik bisa terjebak
dalam penggunaan teknologi yang tidak sepenuhnya mereka pahami, yang berpotensi
merugikan mereka secara pribadi maupun kolektif.
Contoh Penggunaan AI Dalam Keseharian
Belum lama di Indonesia muncul banyak contoh kasus penggunaan
teknologi yang memungkinkan manipulasi video secara realistis, yang menimbulkan
kekhawatiran dalam hal penyebaran hoaks atau memancing gugatan pencemaran nama
baik. Meski saat ini lebih dominan digunakan sebagai medium ekspresi berpendapat
dalam bentuk satire terhadap kekuasaan yang tidak pro-rakyat. Sementara sistem
rekomendasi di platform belanja online atau media sosial sering kali membentuk
preferensi pengguna tanpa mereka sadari, memakai data pengguna yang dikumpulkan
secara diam-diam. Beberapa kota besar seperti Jakarta dan Bandung mulai
menerapkan sistem AI untuk memantau lalu lintas secara real-time dan mengatur
lampu lalu lintas secara otomatis. Masyarakat sering kali tidak mengetahui
bahwa data pergerakan mereka sedang direkam dan dianalisis, menimbulkan isu transparansi
penggunaan data pribadi.
Aplikasi seperti Ruangguru dan Quipper mulai
mengintegrasikan AI untuk menjawab soal dan memberikan penjelasan otomatis. Akibatnya
siswa bisa bergantung pada jawaban instan tanpa memahami konsep, padahal tidak
semua penjelasan AI akurat atau sesuai kurikulum nasional. Banyak AI yang
menawarkan layanan instan, seperti menulis Essay, karya ilmiah, melukis,
mengedit video dan suara, bahkan membuat musik dengan harga beberapa Dollar AS.
Lembaga survei dan tim kampanye politik juga menggunakan crawler AI untuk
membaca opini publik, padahal kata-kata tertentu memiliki bias, seperti teroris,
penjajah, radikal, dan hasil analisis bisa disalahgunakan untuk manipulasi
opini publik. Saat ini juga e-commerce dan perbankan di Indonesia menggunakan
chatbot berbasis AI untuk melayani pelanggan yang sering kali tidak menyadari
bahwa mereka berbicara dengan mesin, dan informasi yang diberikan AI sangat terbatas
atau tidak dapat memahami konteks informasi. Ini menunjukkan betapa pentingnya
komunikasi teknologi yang etis dan bertanggung jawab.
Strategi Ilmuwan dan Komunikator Sains
Mengkomunikasikan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI)
kepada publik awam bukanlah tugas yang mudah. Ilmuwan dan komunikator sains
perlu mengembangkan strategi yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik
dan mudah dipahami. Salah satu pendekatan yang efektif adalah penggunaan narasi—menceritakan
bagaimana AI digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam aplikasi
belanja online atau navigasi transportasi. Narasi membantu mengaitkan teknologi
dengan pengalaman nyata, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Selain narasi, analogi juga menjadi alat penting. Misalnya,
menjelaskan machine learning sebagai “cara belajar seperti anak kecil
yang melihat banyak gambar kucing dan akhirnya tahu mana yang kucing dan mana
yang bukan.” Analogi seperti ini membantu menyederhanakan konsep teknis tanpa
menghilangkan esensinya. Visualisasi, seperti infografik, animasi, dan simulasi
interaktif, juga sangat efektif dalam menjelaskan proses kerja AI yang
kompleks. Menurut Guzman & Lewis (2022) dalam Journal of
Communication, pendekatan visual dan naratif terbukti meningkatkan
pemahaman publik terhadap teknologi AI secara signifikan.
Peran media, influencer, dan edukator digital juga tidak
bisa diabaikan. Di era digital, informasi tentang AI lebih sering diperoleh
dari YouTube, TikTok, atau Instagram daripada dari jurnal ilmiah. Oleh karena
itu, kolaborasi antara ilmuwan dan kreator konten menjadi penting. Andrea
Guzman (2023) melalui buku Communicating Artificial Intelligence: Theory and
Practice, menekankan bahwa edukator digital memiliki potensi besar untuk
membentuk persepsi publik tentang AI, asalkan mereka dibekali dengan informasi
yang akurat dan etis.
Salah satu studi kasus global yang menarik adalah kampanye
edukasi AI oleh Google DeepMind, yang membuat video animasi dan artikel
populer untuk menjelaskan konsep reinforcement learning kepada publik.
Di Indonesia, beberapa komunitas seperti Indonesia AI Society dan Kelas
Pintar telah mulai mengadakan webinar dan konten edukatif tentang AI untuk
pelajar dan guru. Meski masih terbatas, inisiatif ini menunjukkan bahwa
komunikasi sains yang efektif bisa dilakukan dengan pendekatan yang kreatif dan
kolaboratif.
Penutup
Untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat
dimanfaatkan secara bijak oleh masyarakat Indonesia, diperlukan strategi
komunikasi sains yang lebih inklusif, etis, dan berkelanjutan. Pertama, para
ilmuwan dan pengembang teknologi perlu lebih aktif berkolaborasi dengan
komunikator sains, jurnalis, dan kreator konten digital untuk menyampaikan
informasi tentang AI secara akurat dan menarik. Komunikasi tidak boleh berhenti
pada aspek teknis, tetapi juga harus mencakup dimensi sosial dan etika dari penggunaan
teknologi tersebut.
Kedua, pemerintah dan institusi pendidikan perlu mendukung
literasi AI sejak dini. Kurikulum sekolah dan kampus dapat memasukkan materi
tentang cara kerja AI, dampaknya terhadap masyarakat, serta bagaimana menilai
informasi teknologi secara kritis. Selain itu, pelatihan bagi guru, dosen, dan
tenaga kependidikan tentang komunikasi teknologi juga penting agar mereka dapat
menjadi agen literasi digital yang efektif.
Ketiga, platform digital dan media sosial perlu lebih
bertanggung jawab dalam menyaring dan menandai konten yang mengandung
misinformasi tentang AI. Kolaborasi antara regulator, perusahaan teknologi, dan
masyarakat sipil sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem informasi yang
sehat dan transparan. Seperti yang disampaikan oleh Scheufele & Krause
(2023), dalam artikel berjudul Navigating the ethics of science
communication in the age of AI, pada jurnal Public Understanding of
Science, komunikasi sains yang etis adalah fondasi penting dalam membangun
kepercayaan publik terhadap teknologi baru.
Sebagai penutup, AI adalah teknologi yang sangat potensial,
namun juga kompleks dan penuh tantangan. Tanpa komunikasi yang tepat, publik
bisa terjebak dalam pemahaman yang keliru atau bahkan dimanipulasi oleh narasi
yang menyesatkan. Oleh karena itu, membangun komunikasi sains yang jujur,
inklusif, dan etis bukan hanya tanggung jawab ilmuwan, tetapi juga seluruh
elemen masyarakat. Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa kemajuan teknologi
benar-benar membawa manfaat bagi semua, bukan hanya segelintir pihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar