20 Agustus 2025

AI, Kompleksitas Teknologi dan Kewajiban Ilmuwan

Penulis: Nursyawal, M.I.Kom

 

Pendahuluan

Belum lama ini, penulis menjadi juri dalam perlombaan seni budaya antarpelajar sekolah menegah atas tingkat propinsi yang kemudian masuk ke tingkat nasional. Pengalaman yang menarik karena langsung menohok pada tantangan jaman, yaitu penggunaan kecerdasan buatan alias akal imitasi alias artificial intellegence (AI). Sejumlah juri khususnya bidang karya cipta naskah sastra, naskah informasi, naskah musik dan desain visual, menemukan banyak karya peserta lomba yang ditengarai sebagai hasil karya AI. Karenanya sejumlah juri harus melakukan wawancara langsung kepada peserta melalui teknologi rapat virtual untuk mengonfirmasi. Dari hasil wawancara itulah sejumlah karya terkonfirmasi bukan buatan yang bersangkutan karena tidak sanggup dijelaskan dengan baik olehnya. Berbeda dengan lomba yang melibatkan aktifitas fisik seperti bernyanyi, membaca puisi, acting, menari, cabang lomba ini belum tersentuh banyak oleh AI.

Kenyataan ini adalah gambaran masyarakat awam tidak memahami adanya batasan dan aturan dalam pemanfaatan AI. Awam juga tidak memahami bagaimana AI memiliki keterbatasan sebagai machine learning, yaitu kemampuan sistem untuk belajar dari data tanpa diprogram secara eksplisit. Dalam proses ini, algoritma dilatih menggunakan data dalam jumlah besar untuk mengenali pola dan membuat prediksi. Lebih lanjut, neural networks atau jaringan saraf tiruan meniru cara kerja otak manusia dalam memproses informasi, memungkinkan AI untuk melakukan tugas-tugas seperti pengenalan wajah, penerjemahan bahasa, menjawab pertanyaan, membuat analisis data, membuat gambar dan video. Meski terdengar canggih, konsep-konsep ini sering kali abstrak dan teknis, sehingga menyulitkan publik untuk memahami bagaimana AI sebenarnya bekerja.

Kesulitan pemahaman ini diperparah oleh cara teknologi AI dikomunikasikan di media. Banyak narasi yang menggambarkan AI sebagai entitas yang “cerdas” atau “berpikir sendiri”, padahal kenyataannya AI hanya mengolah data berdasarkan algoritma yang dirancang oleh manusia. Ketika masyarakat tidak memahami batasan dan cara kerja AI, muncul risiko misinformasi, misalnya, menganggap hasil dari AI sebagai 100 persen benar tanpa mempertanyakan proses di baliknya. Selain itu, bias dalam data yang digunakan oleh AI dapat menghasilkan output yang diskriminatif atau tidak akurat, yang jika tidak dijelaskan dengan baik, bisa menimbulkan dampak sosial yang serius.

Dalam konteks komunikasi teknologi, tantangan etika menjadi sangat penting. Transparansi dalam menjelaskan bagaimana AI bekerja dan akuntabilitas dalam penggunaannya harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu tahu bahwa AI bukanlah alat yang netral. Ia bisa dipengaruhi oleh data yang bias, desain algoritma yang tidak adil, atau tujuan komersial dari pengembangnya. Tanpa komunikasi yang jujur dan terbuka, publik bisa terjebak dalam penggunaan teknologi yang tidak sepenuhnya mereka pahami, yang berpotensi merugikan mereka secara pribadi maupun kolektif.

Contoh Penggunaan AI Dalam Keseharian

Belum lama di Indonesia muncul banyak contoh kasus penggunaan teknologi yang memungkinkan manipulasi video secara realistis, yang menimbulkan kekhawatiran dalam hal penyebaran hoaks atau memancing gugatan pencemaran nama baik. Meski saat ini lebih dominan digunakan sebagai medium ekspresi berpendapat dalam bentuk satire terhadap kekuasaan yang tidak pro-rakyat. Sementara sistem rekomendasi di platform belanja online atau media sosial sering kali membentuk preferensi pengguna tanpa mereka sadari, memakai data pengguna yang dikumpulkan secara diam-diam. Beberapa kota besar seperti Jakarta dan Bandung mulai menerapkan sistem AI untuk memantau lalu lintas secara real-time dan mengatur lampu lalu lintas secara otomatis. Masyarakat sering kali tidak mengetahui bahwa data pergerakan mereka sedang direkam dan dianalisis, menimbulkan isu transparansi penggunaan data pribadi.

Aplikasi seperti Ruangguru dan Quipper mulai mengintegrasikan AI untuk menjawab soal dan memberikan penjelasan otomatis. Akibatnya siswa bisa bergantung pada jawaban instan tanpa memahami konsep, padahal tidak semua penjelasan AI akurat atau sesuai kurikulum nasional. Banyak AI yang menawarkan layanan instan, seperti menulis Essay, karya ilmiah, melukis, mengedit video dan suara, bahkan membuat musik dengan harga beberapa Dollar AS. Lembaga survei dan tim kampanye politik juga menggunakan crawler AI untuk membaca opini publik, padahal kata-kata tertentu memiliki bias, seperti teroris, penjajah, radikal, dan hasil analisis bisa disalahgunakan untuk manipulasi opini publik. Saat ini juga e-commerce dan perbankan di Indonesia menggunakan chatbot berbasis AI untuk melayani pelanggan yang sering kali tidak menyadari bahwa mereka berbicara dengan mesin, dan informasi yang diberikan AI sangat terbatas atau tidak dapat memahami konteks informasi. Ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi teknologi yang etis dan bertanggung jawab.

Strategi Ilmuwan dan Komunikator Sains

Mengkomunikasikan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) kepada publik awam bukanlah tugas yang mudah. Ilmuwan dan komunikator sains perlu mengembangkan strategi yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik dan mudah dipahami. Salah satu pendekatan yang efektif adalah penggunaan narasi—menceritakan bagaimana AI digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam aplikasi belanja online atau navigasi transportasi. Narasi membantu mengaitkan teknologi dengan pengalaman nyata, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Selain narasi, analogi juga menjadi alat penting. Misalnya, menjelaskan machine learning sebagai “cara belajar seperti anak kecil yang melihat banyak gambar kucing dan akhirnya tahu mana yang kucing dan mana yang bukan.” Analogi seperti ini membantu menyederhanakan konsep teknis tanpa menghilangkan esensinya. Visualisasi, seperti infografik, animasi, dan simulasi interaktif, juga sangat efektif dalam menjelaskan proses kerja AI yang kompleks. Menurut Guzman & Lewis (2022) dalam Journal of Communication, pendekatan visual dan naratif terbukti meningkatkan pemahaman publik terhadap teknologi AI secara signifikan.

Peran media, influencer, dan edukator digital juga tidak bisa diabaikan. Di era digital, informasi tentang AI lebih sering diperoleh dari YouTube, TikTok, atau Instagram daripada dari jurnal ilmiah. Oleh karena itu, kolaborasi antara ilmuwan dan kreator konten menjadi penting. Andrea Guzman (2023) melalui buku Communicating Artificial Intelligence: Theory and Practice, menekankan bahwa edukator digital memiliki potensi besar untuk membentuk persepsi publik tentang AI, asalkan mereka dibekali dengan informasi yang akurat dan etis.

Salah satu studi kasus global yang menarik adalah kampanye edukasi AI oleh Google DeepMind, yang membuat video animasi dan artikel populer untuk menjelaskan konsep reinforcement learning kepada publik. Di Indonesia, beberapa komunitas seperti Indonesia AI Society dan Kelas Pintar telah mulai mengadakan webinar dan konten edukatif tentang AI untuk pelajar dan guru. Meski masih terbatas, inisiatif ini menunjukkan bahwa komunikasi sains yang efektif bisa dilakukan dengan pendekatan yang kreatif dan kolaboratif.

Penutup

Untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan secara bijak oleh masyarakat Indonesia, diperlukan strategi komunikasi sains yang lebih inklusif, etis, dan berkelanjutan. Pertama, para ilmuwan dan pengembang teknologi perlu lebih aktif berkolaborasi dengan komunikator sains, jurnalis, dan kreator konten digital untuk menyampaikan informasi tentang AI secara akurat dan menarik. Komunikasi tidak boleh berhenti pada aspek teknis, tetapi juga harus mencakup dimensi sosial dan etika dari penggunaan teknologi tersebut.

Kedua, pemerintah dan institusi pendidikan perlu mendukung literasi AI sejak dini. Kurikulum sekolah dan kampus dapat memasukkan materi tentang cara kerja AI, dampaknya terhadap masyarakat, serta bagaimana menilai informasi teknologi secara kritis. Selain itu, pelatihan bagi guru, dosen, dan tenaga kependidikan tentang komunikasi teknologi juga penting agar mereka dapat menjadi agen literasi digital yang efektif.

Ketiga, platform digital dan media sosial perlu lebih bertanggung jawab dalam menyaring dan menandai konten yang mengandung misinformasi tentang AI. Kolaborasi antara regulator, perusahaan teknologi, dan masyarakat sipil sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat dan transparan. Seperti yang disampaikan oleh Scheufele & Krause (2023), dalam artikel berjudul Navigating the ethics of science communication in the age of AI, pada jurnal Public Understanding of Science, komunikasi sains yang etis adalah fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap teknologi baru.

Sebagai penutup, AI adalah teknologi yang sangat potensial, namun juga kompleks dan penuh tantangan. Tanpa komunikasi yang tepat, publik bisa terjebak dalam pemahaman yang keliru atau bahkan dimanipulasi oleh narasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, membangun komunikasi sains yang jujur, inklusif, dan etis bukan hanya tanggung jawab ilmuwan, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa kemajuan teknologi benar-benar membawa manfaat bagi semua, bukan hanya segelintir pihak.

 

Tidak ada komentar: