Boleh dikutip dengan menyebut nama penulis, Nursyawal sebagai sumber namun biasanya sumber blogger akan ditolak sebaga referensi. Tulisan ini dibuat dari ringkasan coretan-coretan ketika saya sebagai pembelajar di Prodi Doktor Ilmu Komunikasi UNISBA Bandung ditanya tentang kajian desertasinya, yaitu komunikasi sains. Banyak yang mengerutkan dahinya, apa pula itu? Karenanya, saya simpan di sini saja agar makin banyak orang Indonesia yang tahu, bahwa ini bukan makhluk asing alias ALIEN.
--------
1. Pendahuluan
Pada 15 November 2025, Indonesia untuk pertama kalinya menerima penghargaan satir "Fossil of the Day" di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Belém, Brasil. Penghargaan yang diberikan oleh Climate Action Network International ini merupakan kritik tajam terhadap delegasi Indonesia yang dituduh mengadopsi narasi lobi industri bahan bakar fosil dalam negosiasi pasar karbon, bahkan menyalin poin-poin pembicaraan mereka kata per kata. Tidak banyak kalangan awam yang dapat mengenali narasi para lobbyst dan 46 perwakilan dari perusahaan bahan bakar fosil dalam delegasi resmi Indonesia, karena memang awam tidak memahami issue-nya, juga tidak paham peta politik global pasar karbon serta posisi politik pemerintah Indonesia. Peristiwa ini menggambarkan betapa kompleksnya hubungan antara sains, politik, dan kepentingan ekonomi dalam arena global.(1)
Kasus COP30 menyingkap sebuah persoalan mendasar: bagaimana pengetahuan ilmiah dikomunikasikan, oleh siapa, dan untuk kepentingan apa? Ketika temuan sains tentang perubahan iklim dapat dengan mudah dibelokkan oleh kepentingan komersial, pertanyaan tentang literasi sains publik menjadi sangat mendesak. Rendahnya literasi sains membuat masyarakat rentan terhadap misinformasi, dari soal vaksin hingga isu perubahan iklim. Laporan National Academies of Sciences Amerika Serikat tahun 2024 menegaskan bahwa meskipun literasi sains merupakan faktor penting dalam memproses informasi ilmiah, sikap dan keyakinan yang telah tertanam sebelumnya tetap mempengaruhi bagaimana seseorang menafsirkan bukti (5) yang dikenal dengan gejala confirmation bias.
Melalui tulisan ini saya coba menjelaskan apa itu komunikasi sains dan mengapa bidang ini sesungguhnya bukan "makhluk asing" dalam ilmu komunikasi, melainkan subdisiplin yang sah dengan landasan filosofis dan metodologis yang kuat. Pemahaman ini menjadi krusial di era ketika batas antara fakta dan fiksi semakin kabur, dan ketika kemampuan publik untuk membedakan sains dari pseudo-sains menentukan kualitas keputusan kolektif kita.
2. Apa Itu Komunikasi Sains?
Komunikasi sains merupakan bidang yang mencakup berbagai aktivitas yang menghubungkan sains dengan masyarakat. Burns, O'Connor, dan Stocklmayer dalam artikel klasik mereka "Science Communication: A Contemporary Definition" yang terbit di jurnal Public Understanding of Science tahun 2003 mendefinisikan komunikasi sains sebagai penggunaan keterampilan, media, aktivitas, dan dialog yang tepat untuk menghasilkan respons personal terhadap sains. Respons ini mencakup lima dimensi yang dikenal dengan analogi vokal AEIOU: Awareness (kesadaran), Enjoyment (kenikmatan), Interest (minat), Opinion-forming (pembentukan opini), dan Understanding (pemahaman).(2)
Definisi yang lebih kontemporer dikemukakan oleh Horst, Davies, dan Irwin dalam The Handbook of Science and Technology Studies tahun 2017. Mereka memandang komunikasi sains sebagai tindakan terorganisir, eksplisit, dan disengaja yang bertujuan mengkomunikasikan pengetahuan ilmiah, metodologi, proses, atau praktik dalam situasi di mana non-ilmuwan merupakan bagian yang diakui dari khalayak.(3) Definisi ini membuka pintu bagi pemahaman bahwa komunikasi sains mencakup spektrum luas, dari jurnalisme sains, museum, festival sains, hingga konsultasi publik dan deliberasi kebijakan.
Dalam praktiknya, komunikasi sains hadir dalam berbagai bentuk. Seorang ilmuwan yang menjelaskan temuannya melalui utas Twitter, jurnalis yang menulis artikel tentang penemuan vaksin baru, misalnya melalui webportal The Conversations, kampanye kesehatan masyarakat tentang pencegahan demam berdarah di TikTok, video YouTube yang menjelaskan mekanika kuantum dengan bahasa sederhana, semua ini adalah manifestasi komunikasi sains. The Oxford Handbook of the Science of Science Communication yang diedit oleh Jamieson, Kahan, dan Scheufele menggambarkan bidang ini sebagai area lintas disiplin yang mengkaji bagaimana publik memahami sains, tantangan seperti misinformasi dan bias, serta bagaimana berbagai perantara mengkomunikasikan sains kepada khalayak yang beragam.(4)
3. Kedudukan Komunikasi Sains dalam Ilmu Komunikasi
Komunikasi sains bukanlah bidang yang berdiri sendiri tanpa akar teoretis. Ia merupakan subdisiplin ilmu komunikasi yang memiliki landasan filosofis yang jelas dalam tiga aspek fundamental: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Dari perspektif ontologi, pertanyaan tentang apa yang dikaji, komunikasi sains memfokuskan diri pada fenomena komunikasi dalam konteks sains. Objek kajiannya mencakup bagaimana pesan-pesan ilmiah dikonstruksi, ditransmisikan, dan diterima; bagaimana makna ilmiah diproduksi dan dinegosiasikan antara ilmuwan dan publik; serta bagaimana realitas sosial tentang sains terbentuk melalui interaksi komunikatif. Ontologi komunikasi sains mengakui bahwa sains bukan sekadar kumpulan fakta objektif, melainkan juga praktik sosial yang dimediasi oleh bahasa, simbol, dan konteks budaya.(3,4)
Dari sisi epistemologi, pertanyaan tentang bagaimana pengetahuan diperoleh, komunikasi sains mengadopsi pluralitas metodologis yang mencerminkan kompleksitas objek kajiannya. Peneliti di bidang ini menggunakan metode kuantitatif seperti survei dan eksperimen untuk mengukur efektivitas pesan sains atau tingkat literasi publik. Mereka juga menggunakan metode kualitatif seperti wawancara mendalam dan analisis wacana untuk memahami bagaimana khalayak memaknai informasi ilmiah. Pendekatan kritis digunakan untuk membongkar relasi kuasa dalam produksi dan distribusi pengetahuan ilmiah.(4) Keragaman metodologis ini menunjukkan bahwa komunikasi sains bukan sekadar "sains populer" yang disederhanakan, melainkan bidang akademik dengan tradisi riset yang ketat.
Aspek aksiologi, pertanyaan tentang nilai dan tujuan, memberi komunikasi sains arah normatifnya. Tujuan komunikasi sains tidak semata-mata informatif, melainkan juga transformatif. Pertama, komunikasi sains bertujuan meningkatkan literasi publik sehingga masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai warga negara.(6) Kedua, ia mendorong transparansi dalam proses ilmiah, memungkinkan pengawasan publik terhadap bagaimana sains diproduksi dan digunakan. Ketiga, komunikasi sains berperan dalam demokratisasi pengetahuan, membuat sains tidak lagi menjadi domain eksklusif para ahli, melainkan sumber daya bersama yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.(12)
4. Mengapa Komunikasi Sains Penting di Era Digital?
Era digital telah mentransformasi lanskap informasi secara fundamental, membawa peluang sekaligus tantangan bagi komunikasi sains. Pandemi COVID-19 menjadi momentum yang menyingkap betapa krusialnya komunikasi sains yang efektif. Penelitian menunjukkan bahwa platform media sosial yang dirancang untuk memonetisasi perhatian dan ketidaksepakatan menghadirkan tantangan serius dalam meyakinkan publik yang skeptis tentang sains yang telah mapan.(5)
Tantangan utama di era digital mencakup tiga hal. Pertama, hoaks dan misinformasi yang menyebar dengan kecepatan yang melampaui kemampuan koreksi. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Research on Technology in Education tahun 2024 menunjukkan bahwa ketika misinformasi digital berkembang biak, kemampuan orang untuk mencari dan mengevaluasi informasi online menjadi sangat krusial. Sayangnya, baik kaum muda maupun dewasa cenderung mengandalkan heuristik lemah, jalan pintas mental yang tidak berkorelasi dengan akurasi sumber.(7) Kedua, bias dan pembingkaian yang mempengaruhi bagaimana informasi sains dipersepsikan. Media sering membingkai sains sebagai rangkaian terobosan dramatis, bukan proses penemuan yang berkelanjutan, sehingga menciptakan ekspektasi yang tidak realistis.(4) Ketiga, polarisasi yang membuat isu-isu sains seperti perubahan iklim menjadi pertarungan identitas politik, bukan diskusi berbasis bukti.(5)
Namun, era digital juga membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya. Media sosial memungkinkan ilmuwan berkomunikasi langsung dengan publik tanpa perantara jurnalis, meningkatkan aksesibilitas dan keberagaman suara dalam diskursus sains.(6) Citizen science atau sains warga telah berkembang pesat, melibatkan masyarakat dalam pengumpulan data dan bahkan perumusan pertanyaan penelitian. Inisiatif semacam ini tidak hanya menghasilkan data berharga, tetapi juga membangun keterlibatan dan pemahaman publik terhadap proses ilmiah.(4)
5. Peran Komunikasi Sains untuk Masa Depan
Komunikasi sains memainkan peran vital dalam beberapa arena strategis yang akan menentukan masa depan umat manusia. Pertama, dalam mendorong kebijakan berbasis bukti. Laporan Uni Eropa tahun 2024 tentang Evidence-Informed Policymaking menekankan bahwa warga sangat mendukung penggunaan sains dalam pembuatan kebijakan, dan hal ini dapat meningkatkan kepercayaan terhadap institusi pemerintah.(10) Namun, jembatan antara sains dan kebijakan tidak terbangun dengan sendirinya, ia memerlukan komunikator sains yang terampil untuk menerjemahkan temuan penelitian ke dalam bahasa yang dapat dipahami dan digunakan oleh pembuat kebijakan.
Kedua, komunikasi sains berperan dalam meningkatkan keterlibatan publik pada isu global. Perubahan iklim menghadirkan contoh nyata: petani di berbagai belahan dunia menghadapi pergeseran musim tanam yang memaksa mereka menyesuaikan jadwal penanaman dan jenis tanaman. Riset dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa adaptasi kalender tanam dapat meningkatkan hasil panen tanaman pokok secara signifikan.(9,15) Namun, pengetahuan ini hanya berguna jika dikomunikasikan secara efektif kepada petani dan pembuat kebijakan pertanian.
Di sisi lain, komunikasi sains juga harus menghadapi tantangan komodifikasi hasil riset oleh segelintir penerbit. Lima perusahaan penerbitan besar, Elsevier, Springer, Wiley, Taylor & Francis, dan American Chemical Society, menguasai lebih dari separuh publikasi ilmiah global sejak 2006, dengan margin keuntungan yang mencapai hampir 40 persen.(13) Kondisi ini menciptakan ketimpangan akses di mana pengetahuan yang dihasilkan dengan dana publik justru tidak dapat diakses secara bebas oleh publik itu sendiri.(11) Gerakan open access dan berbagai inisiatif akses terbuka muncul sebagai respons terhadap monopoli ini, menegaskan bahwa demokratisasi pengetahuan ilmiah adalah arena perjuangan yang nyata.(12)
Komunikasi sains yang etis berlandaskan pada prinsip-prinsip yang relevan dengan norma-norma Merton tentang etos sains. Robert K. Merton pada tahun 1942 mengidentifikasi empat imperatif institusional sains yang dikenal sebagai CUDOS: Communism (kepemilikan bersama atas pengetahuan ilmiah), Universalism (evaluasi berdasarkan kriteria objektif), Disinterestedness (bekerja untuk kepentingan bersama, bukan keuntungan pribadi), dan Organized Skepticism (sikap kritis terhadap klaim yang belum teruji).(8) Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa norma-norma ini mengalami erosi dalam lanskap akademik kontemporer yang semakin kompetitif dan terkomersialisasi.(14) Komunikator sains yang baik menjunjung tinggi akurasi, transparansi tentang keterbatasan dan ketidakpastian, serta inklusivitas, memastikan bahwa suara dan kebutuhan komunitas yang terpinggirkan juga terwakili dalam diskursus sains.
6. Penutup
Komunikasi sains bukan makhluk asing dalam ilmu komunikasi. Ia adalah subdisiplin yang memiliki objek kajian yang jelas (fenomena komunikasi dalam konteks sains), metodologi yang beragam dan ketat (kuantitatif, kualitatif, dan kritis), serta tujuan normatif yang mulia (literasi, transparansi, dan demokratisasi pengetahuan). Dalam dunia yang didera krisis iklim, pandemi, dan tsunami misinformasi, komunikasi sains bukan lagi kemewahan intelektual, ia adalah kebutuhan mendesak.
Kasus Indonesia di COP30 mengingatkan kita bahwa sains tidak berbicara untuk dirinya sendiri.(1) Ia memerlukan komunikator yang terampil, jujur, dan berkomitmen pada kepentingan publik. Ketika lobi industri dapat mendikte posisi negosiasi sebuah negara, ketika hoaks kesehatan dapat membunuh lebih banyak orang daripada penyakit itu sendiri, ketika hasil riset terkunci di balik paywall yang tidak terjangkau, di situlah komunikasi sains menemukan panggilannya.
Untuk membangun komunikasi sains yang adil dan inklusif, kita dapat bertindak bukan hanya sebagai konsumen pasif informasi ilmiah, tetapi sebagai warga yang aktif berpartisipasi dalam produksi dan sirkulasi pengetahuan. Karena pada akhirnya, sains adalah milik bersama, dan komunikasinya adalah tanggung jawab kolektif kita.
Daftar Pustaka
(1) Climate Action Network. Fossil of the Day: Indonesia [Internet]. 2025 [cited 2025 Nov 22]. Available from: https://climatenetwork.org/resource/fossil-of-the-day-indonesia/
(2) Burns TW, O'Connor DJ, Stocklmayer SM. Science communication: a contemporary definition. Public Underst Sci. 2003;12(2):183-202. doi: 10.1177/09636625030122004
(3) Horst M, Davies SR, Irwin A. Reframing science communication. In: Felt U, Fouché R, Miller CA, Smith-Doerr L, editors. The Handbook of Science and Technology Studies. 4th ed. Cambridge: MIT Press; 2017.
(4) Jamieson KH, Kahan DM, Scheufele DA, editors. The Oxford Handbook of the Science of Science Communication. Oxford: Oxford University Press; 2017. doi: 10.1093/oxfordhb/9780190497620.001.0001
(5) National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. Understanding and Addressing Misinformation About Science. Washington, DC: National Academies Press; 2024.
(6) Lopes RM, Comarú MW, Pierini MF, de Souza RA, Hauser-Davis RA. Scientific communication and scientific literacy for the public perception of the importance of environmental quality for public health. Front Commun. 2024;9:1297246. doi: 10.3389/fcomm.2024.1297246
(7) McGrew S, Kohnen AM. Tackling misinformation through online information literacy: Structural and contextual considerations. J Res Technol Educ. 2024;56(1):1-15. doi: 10.1080/15391523.2023.2280385
(8) Merton RK. The normative structure of science. In: Merton RK. The Sociology of Science: Theoretical and Empirical Investigations. Chicago: University of Chicago Press; 1973. p. 267-278.
(9) Minoli S, Jägermeyr J, Asseng S, Urfels A, Müller C. Global crop yields can be lifted by timely adaptation of growing periods to climate change. Nat Commun. 2022;13:7079. doi: 10.1038/s41467-022-34411-5
(10) European Commission. Building Capacity for Evidence-Informed Policy-Making. Brussels: Publications Office of the European Union; 2024.
(11) Puehringer S, Rath J, Griesebner T. The political economy of academic publishing: On the commodification of a public good. PLoS ONE. 2021;16(6):e0253226. doi: 10.1371/journal.pone.0253226
(12) Boukacem-Zeghmouri C. Open science: A global movement catches on. UNESCO Courier. 2023.
(13) Larivière V, Haustein S, Mongeon P. The oligopoly of academic publishers in the digital era. PLoS ONE. 2015;10(6):e0127502. doi: 10.1371/journal.pone.0127502
(14) Mackinlay B. The DECAY of Merton's scientific norms and the new academic ethos. Oxford Rev Educ. 2024;50(4):489-505. doi: 10.1080/03054985.2023.2243814
(15) Abebaw SE. A global review of the impacts of climate change and variability on agricultural productivity and farmers' adaptation strategies. Food Sci Nutr. 2025;13(5):e70260. doi: 10.1002/fsn3.70260
Tidak ada komentar:
Posting Komentar