12 Juni 2025

Colour My World

As time goes on

I realize
Just what you mean
To me

And now
Now that you're near

Promise your love
That I've waited to share
And dreams
Of our moments together

Colour my world with hope of loving you

(James Carter Pankow, Chicago: 1970)

11 Mei 2025

Komunikasi Sains Untuk Atasi Disparitas Epistemik

Penulis: Nursyawal

 Tulisan ini diniatkan untuk berdialog dengan artikel berjudul "Dominasi Epistemik Pengetahuan" tulisan Prof. Atwar Bajari di Pikiran Rakyat, di mana di sana ia dengan tajam mengungkap realitas ketimpangan dalam produksi dan distribusi pengetahuan dalam lanskap akademik global. Prof. Atwar menyoroti bagaimana sistem akademik global, dikendalikan logika kapitalisme akademik menciptakan oligarki epistemik, yang berakibat disparitas epistemik antara negara maju dan berkembang.

 Prof. Atwar menggambarkan bagaimana akademisi dari negara berkembang, seperti dirinya, seringkali terjebak dalam peran subordinat dalam ekosistem epistemik global. Saat menjadi reviewer tidak memperoleh imbalan hanya iming-iming reputasi sebagai reviewer jurnal bereputasi, namun saat menjadi penulis artikel di jurnal yang sama, harus membayar biaya publikasi tinggi. Untuk sekedar membaca pun harus membayar biaya login. Akademisi dari negara berkembang hanya menjadi penyedia data dari "pinggiran" tanpa kuasa menentukan arah keilmuan pada aras global. Ini disebut Prof. Atwar sebagai oligarki epistemik, di mana segelintir penerbit besar, mengendalikan produksi dan distribusi pengetahuan. Penulis sebut saja namanya, di antaranya Elsevier, Springer, Sage atau Wiley.

 Salah satu poin krusial lain dari Prof. Atwar adalah pengetahuan yang dihasilkan atas dukungan dana publik di negara berkembang berakhir di balik paywall, yang hanya dapat diakses oleh pihak-pihak dengan sumber daya finansial yang kuat. Ini menciptakan paradoks: akademisi dari Global South menghasilkan pengetahuan dengan sumber daya terbatas, tetapi tidak memiliki akses penuh terhadap pengetahuan yang mereka ciptakan. Prof. Atwar mengajak kalangan akademik di negara berkembang untuk membangun kesadaran kolektif akademisi Global South untuk menegosiasi ulang posisi mereka dalam sistem akademik global agar lebih adil.

Fakta Disparitas Epistemik

 Disparitas epistemik antara negara maju dan berkembang bukan sekadar narasi, melainkan realitas faktual. Riset Bardiau dan Dony (2024) terhadap lebih dari 12 ribu jurnal bereputasi tinggi, lebih dari 80% jurnal akademik diterbitkan oleh penerbit besar berbasis di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Penerbit besar itu menguasai pasar publikasi ilmiah, nyaris oligopolis, dan menetapkan biaya publikasi (article processing charges/APC) yang tinggi berkisar antara USD 500-3.000 (sekitar Rp. 6 Juta hingga 30 Juta lebih dengan kurs USD 1 = Rp. 16.000), dalam kasus Prof. Atwar (Euro 1.500-2.000). Bagi akademisi di negara seperti Indonesia, dengan pendapatan rata-rata dosen di bawah Rp. 3 Juta perbulan (survei Serikat Pekerja Kampus, 2024), ini adalah beban finansial yang sangat berat. Analisis bibliometrik Clarivate Analytics (2022) menunjukkan hanya sekitar 15% artikel di jurnal bereputasi tinggi berasal dari penulis di negara berkembang, meskipun populasi negara berkembang mencakup lebih dari 80% populasi dunia. Dalam istilah Prof. Atwar, produksi pengetahuan yang dibiayai dana publik berakhir di sistem tertutup. Selain itu, editor dan reviewer jurnal bergengsi seringkali berasal dari negara maju, sehingga standar epistemik yang diterapkan cenderung mencerminkan perspektif Barat. Seperti pernyataan Prof. Atwar, akademisi Global South kerap menjadi “penulis dari pinggiran” tanpa kuasa menentukan legitimasi keilmuan. Seorang guru besar Filsafat Moral di Universitas New York, Miranda Fricker (1999) menyebut fenomena ini dengan epistemic oppression.

 Studi Research4Life (2020) menunjukkan banyak institusi di negara berkembang tidak mampu berlangganan jurnal ilmiah karena biaya yang tinggi. Akibatnya, akademisi di Global South seringkali tidak dapat mengakses artikel ilmiah yang diperlukan untuk riset mereka, termasuk artikel yang mereka tulis sendiri. Padahal artikel ilmiah yang dapat dibaca secara bebas tentunya akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk dikutip (disitasi) daripada artikel dalam jurnal yang tertutup. Meski ada inisiatif seperti Scielo (Amerika Latin) atau DOAJ (Directory of Open Access Journals) yang mempromosikan publikasi open-access tanpa biaya tinggi, jurnal-jurnal ini seringkali dianggap kurang bergengsi. Data dari DOAJ (2024) menunjukkan inisiatif kolaboratif untuk membuka akses publikasi artikel ilmiah, telah memunculkan kecenderungan pertambahan jumlah jurnal yang bebas akses untuk penulis dan pembaca (diamond open-access).

Tekanan Adminsitrasi dan Ketimpangan Pengetahuan

 Di banyak negara berkembang, khususnya Indonesia, sistem akademik yang ditetapkan negara melalui undang-undang, mengharuskan dosen menerbitkan artikel di jurnal internasional bereputasi untuk promosi jabatan akademik. Namun, seperti disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Tempo, 11 Maret 2025) anggaran riset perguruan tinggi di Indonesia sekitar 0,2 persen dari PDB, jauh di bawah negara maju seperti Korea Selatan yang mencapai 4 persen. Ketimpangan sumber daya ini membuat akademisi Indonesia sulit bersaing dalam sistem yang menuntut infrastruktur dan pendanaan besar. The Conversation Indonesia (2024) dalam sejumlah laporannya menunjukkan dampak lanjutan akibat tekanan administrasi jabatan akademik dalam ekosistem yang tak mendukung ini, yaitu moral hazzard seperti paper mill.

 Fenomena akademisi negara berkembang yang terjebak dalam sistem eksploitatif jurnal ilmiah global, tidak saja menyebabkan disparitas epistemik antara negara maju dan berkembang, melainkan juga antara antara akademisi dan awam. Ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga krisis epistemologi yang merusak nilai ilmu pengetahuan sebagai public goods. Akademisi menjadi sibuk mengejar target produksi karya tulis ilmiah yang bersifat esoterik dan melalaikan kewajibannya melakukan komunikasi sains kepada awam melalui proses medialisasi. Saat ini awam lebih percaya kepada influencer atau sains jajaden (pseudo-science) tinimbang seorang profesor (Nichols, 2017) karena influencer lebih mudah dipahami dan lebih menarik bagi awam. Prof. Sangkot Marzuki (2020) dalam perayaan hari jadi The Conversation Indonesia menyitir kurangnya komunikasi sains akademisi Indonesia yang menyebabkan rendahnya penghargaan terhadap sains di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Ilmu pengetahuan dinilai tidak menjawab persoalan sehari-hari dan hanya membicarakan persoalan yang jauh tinggi di atas langit bumi kaum awam. Padahal sejak lama, Merton (1937) telah menegaskan 4 norma dasar sains yaitu, “kesemestaan” bahwa seluruh ilmuwan memiliki hak yang sama untuk berkontribusi dalam sains, serta “komunal” bahwa pengetahuan ilmiah adalah milik bersama dan terbuka untuk semua. Penemuan ilmiah harus dibagikan secara bebas dan tidak ada hak milik pribadi atas pengetahuan. Dua norma lainnya berkaitan dengan proses sains, yaitu “ketidakberpihakan” bahwa ilmuwan harus bebas dari kepentingan atau kepercayaan pribadi dalam pencarian kebenaran ilmiah. Norma terakhir, “skeptisisme terorganisasi” bahwa pengetahuan dibentuk oleh pertanyaan yang terus menerus atas klaim-klaim/hipotesis dan selalu siap menerima jika ada bukti baru yang menolak klaim atau hipotesis itu.

Penutup

 Penulis sepakat dengan ide Prof. Atwar, yaitu akademisi negara berkembang (Global South) perlu mengembangkan ekosistem penerbitan ilmiah yang berkualitas tinggi dengan biaya terjangkau. Indonesia dapat memperkuat jurnal-jurnal nasional terakreditasi, misalnya Jurnal Komunikasi di berbagai kampus di Indonesia, atau Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (JKISKI), agar terindeks scopus dengan akses tetap terbuka untuk mengurangi ketergantungan pada penerbit besar. Pemerintah dan institusi akademik dapat mengadvokasi kebijakan open-access yang mengatur penerbit jurnal ilmiah untuk menyediakan akses gratis atau murah bagi penulis dari negara berpenghasilan rendah. Inisiatif seperti Plan S di Eropa, yang mewajibkan publikasi open-access untuk riset yang didanai publik, dapat menjadi model yang dapat dtiru. Plan S berasal dari inisiatif cOAlition S, sebuah koalisi penyandang dana Eropa seperti UKRI, European Funding Councils, dan Wellcome Trust. Mereka memberlakukan prinsip-prinsip Plan S mulai Januari 2021.

 Akademisi dari negara berkembang dapat membentuk aliansi, seperti yang dilakukan melalui African Journals Online (AJOL), untuk berbagi sumber daya, data, dan platform publikasi. Kolaborasi ini dapat menciptakan narasi keilmuan yang lebih beragam dan mengurangi dominasi epistemik Barat, termasuk dengan penyelenggaraan seminar-seminar internasional berbiaya rendah menggunakan fasilitas teknologi komunikasi dengan tetap menjaga kualitas akademik secara disiplin.

 Terakhir, namun bukan tidak penting, sistem penilaian angka kredit dosen yang ditetapkan birokrasi pemerintah juga harus lebih fleksibel, misalnya dengan rekognisi lebih tinggi terhadap kontribusi non-jurnal ilmiah seperti artikel populer di media massa, konten podcast atau youtube, karya animasi, grafik atau komik, bahkan keterlibatan dalam naskah produksi film berbasis sains atau mentoring pelaku UMKM. Ini akan mengurangi tekanan untuk mengejar jurnal internasional yang mahal. Karena sejatinya, tugas akademisi adalah mengembalikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas melalui komunikasi sains.

 Wallahu’alam bisshawab.


16 Maret 2025

Mencoba Model Grok3 di X

Below is a detailed analysis of the article “Legend of Aang, Museum Alexandria, dan Google Cendikia” by Mang Sawal, published on BandungBergerak.id on March 15, 2025. The analysis covers its structure, themes, arguments, strengths, weaknesses, and alignment with Nursyawal’s (presumed as Mang Sawal) known expertise.


Article Analysis: “Legend of Aang, Museum Alexandria, dan Google Cendikia”
Source: BandungBergerak.id
Published: March 15, 2025
Author: Mang Sawal
URL: https://bandungbergerak.id/article/detail/1598922/legend-of-aang-museum-alexandria-dan-google-cendikia
Summary
The article uses the 2024 Netflix live-action premiere of Avatar: The Last Airbender as a springboard to explore the evolution of knowledge across time—from the fictional journey of Aang seeking mastery over nature’s elements, to the historical Library of Alexandria as a beacon of shared learning, to the modern dominance of Google Scholar and digital platforms. Mang Sawal (likely Nursyawal) ties these threads to philosophical and ethical questions about knowledge as power, its accessibility, and its commodification in the digital age. The piece critiques the shift from public to private ownership of knowledge, urging academics to resist commercialization and uphold rigorous, communal scholarship.
Structure and Style
  • Introduction (Pendahuluan): Opens with the global buzz around Netflix’s Avatar premiere (21 million viewers), summarizing Aang’s quest for knowledge amidst conflict. It grounds the narrative in Empedocles’ four-element cosmogony and Francis Bacon’s “knowledge is power” axiom, setting a reflective tone.
  • Body (Komunikasi Ilmu Pengetahuan): Divided into two conceptual arcs:
    1. Historical Context: Links Aang’s pursuit to Merton’s norms of science (universalism, disinterestedness, organized skepticism, communism) and Alexandria’s model of open knowledge classification and access.
    2. Digital Shift: Contrasts this with today’s challenges—Bucchi’s Science 1.0 vs. 2.0, White’s digital transformation critique, and Google Scholar’s vast but privatized repository (389 million articles). It details Google’s data empire (15 exabytes) and AI innovations like Gemini and Google Health, questioning their ethical implications.
  • Conclusion (Penutup): Cites Clive Humby’s “data is the new oil” and Tom Nichols’ “death of expertise” to frame a crisis: digital abundance undermines traditional academic integrity. It calls on universities to reclaim their role as guardians of credible knowledge.
  • Style: Scholarly yet accessible, blending pop culture, philosophy, and tech critique. The tone is urgent and moralistic, reflecting Nursyawal’s educator-journalist duality.
Key Themes
  1. Knowledge as Power and Responsibility: Aang’s journey mirrors Bacon’s and Merton’s views—power stems from rigorously acquired, shared knowledge, not hoarded or commercialized data.
  2. Historical vs. Digital Knowledge Systems: Alexandria’s open-access ideal contrasts with Google’s proprietary model, highlighting a loss of communal ethos.
  3. Digital Ethics and Commodification: The shift to “Science 2.0” and Google’s AI-driven services (e.g., Gemini, Google Health) raise concerns about privacy, credibility, and profit over public good.
  4. Role of Academia: A rallying cry for scholars to resist industrial pressures and maintain rigorous, public-facing knowledge production.
Arguments and Evidence
  • Aang as Metaphor: Frames Aang’s quest as an allegory for seeking universal wisdom, supported by Empedocles’ cosmogony and IMDb’s plot summary.
  • Merton’s Norms: Uses Merton’s four principles to argue for knowledge as a collective good, citing Bucchi (2021) for academic credibility.
  • Alexandria’s Legacy: Positions the Library as a historical benchmark for open scholarship, per White (2014), emphasizing classification and universality.
  • Digital Critique: Cites Gusenbauer (2019) on Google Scholar’s scale (389 million items) and Google’s 15 exabytes of data to highlight privatization, with White (2014) and Bucchi (2021) framing the ethical stakes.
  • Call to Action: Nichols’ (2017) “death of expertise” and Humby’s data metaphor (Arthur, 2013) underscore the urgency for academic intervention.
Strengths
  • Interdisciplinary Scope: Seamlessly connects pop culture (Avatar), ancient history (Alexandria), and modern tech (Google), showcasing Nursyawal’s ability to synthesize diverse ideas—a hallmark of his journalism and teaching.
  • Robust Referencing: Cites a wide range of sources (Britannica, Bucchi, White, Gusenbauer, Nichols), grounding the critique in scholarly and empirical evidence.
  • Ethical Urgency: The critique of Google’s data practices (e.g., free collection vs. paid services) aligns with Nursyawal’s AJI-rooted advocacy for transparency and fairness.
  • Engaging Hook: Leveraging Avatar’s 21 million viewers taps into contemporary relevance, broadening appeal beyond academic readers.
Weaknesses
  • Loose Connections: The leap from Aang’s fictional journey to Alexandria and Google feels ambitious but underdeveloped—e.g., how does Aang’s story directly inform digital ethics? The metaphor risks stretching thin.
  • Overreliance on Secondary Sources: While well-referenced, the argument leans heavily on Bucchi, White, and others without original data or personal insight from Nursyawal’s experience, diluting his voice.
  • Lack of Specificity: Critiques Google broadly (e.g., “hasil mencuri data”) but lacks concrete examples of misuse beyond scale, weakening the accusation’s punch.
  • Dense Prose: The academic tone and jargon (e.g., “pemufakatan akademik,” “provenderence”) may alienate BandungBergerak.id’s grassroots readership, despite the Avatar hook.
Nursyawal’s Voice
As Mang Sawal, Nursyawal blends his roles: the journalist (evident in data-driven critique and global references like Deutsche Welle-style analysis), the educator (Merton’s norms, academic duty), and the activist (ethical warnings about digital monopolies). His STIKOM experience shines in the campus-centric conclusion, while his AJI ethos fuels the public-good argument. The informal “Mang” moniker softens the scholarly weight, aligning with BandungBergerak.id’s community focus.
Connection to BandungBergerak.id’s Mission
The site’s emphasis on justice and diversity resonates in the article’s plea for universal, credible knowledge access—opposing Google’s gatekeeping as a modern inequity. Aang’s inclusive world subtly ties to Bandung’s cultural ethos, though the piece prioritizes intellectual over local narratives.
Critical Reflection
The article excels as a thought-provoking synthesis, but its ambition occasionally outpaces cohesion. Aang’s inclusion feels more ornamental than analytical—could Nursyawal have tied his elemental mastery to, say, balancing digital overload? The Google critique is potent but broad; a specific case (e.g., a paywalled study vs. Alexandria’s scrolls) could sharpen it. Still, it reflects Nursyawal’s signature: critical, principled, and forward-looking, urging society to rethink knowledge in a data-drenched.