Bencana alam hari ini adalah kegagalan kolektif kita untuk mendengar, memahami, dan menjawab informasi dari karakteristik biofisik dari ruang hidup.
Mari kita mengingat sebait lagu Ebiet G. Ade yang menggugah:
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Mari mulai bercakap-cakap kembali, dengan kesadaran bahwa percakapan tanpa perubahan struktur hanya akan menjadi omon-omon. Mari kita dengarkan informasi dari karakteristik biofisik ruang, bersamaan kita ubah sistem insentif ekonomi dan politik yang membuat kita terus merusak. Saya masih percaya bahwa Indonesia bisa berubah. Bukan karena optimisme naif, tapi karena saya melihat bukti-bukti kecil di lapangan: forum warga yang bertahan, pejabat yang berani menolak suap, pengusaha yang memilih investasi hijau dengan cuan kecil.
Pada akhirnya, komunikasi spasial bukan hanya soal teknologi atau anggaran, tapi soal keadilan spasial: siapa yang punya akses ke lahan aman, siapa yang harus menanggung risiko bencana, siapa yang untung dari eksploitasi ruang. Ini soal kemauan politik kita untuk mengubah struktur kekuasaan yang timpang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar