NURSYAWAL
30080023009
Pendahuluan
Meski konsep sejahtera dan kesejahteraan
adalah konsep yang relatif

Pada
masa pemerintahan Presiden Jokowi (2014-2024) konsep Indonesia Emas masuk ke
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dengan target
yang lebih operasional yaitu: kepemimpinan yang berpengaruh di dunia, pendapatan
perkapita setara negara maju, emisi gas nyaris nol, kemiskinan mendekati nol, daya
saing Sumber Daya Manusia mencapai skala 0,73 menurut Human Capital Index dari Bank
Dunia atau dalam konteks Indonesia disebut Indeks Pembangunan Manusia
Tabel 1. Kecenderungan
Positif Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia
dari
Tahun 1999 hingga 2019 (olahan penulis, sumber: bps.go.id)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) memiliki
tiga dimensi yang digunakan sebagai dasar perhitungannya:
1.
Kesehatan,
yang diukur dengan angka harapan hidup saat kelahiran
2.
Pendidikan,
yang dihitung dari angka harapan sekolah dan angka rata-rata lama sekolah
3.
Standar
hidup layak, yang dihitung dari produk nasional bruto per kapita

Sementara
pendapatan perkapita diukur dari rerata penjumlahan konsumsi rumah tangga,
belanja pemerintah, investasi dikali selisih ekspor dan impor lalu dibagi
jumlah populasi sebuah negara
Tabel 1. Kecenderungan
Peningkatan Pendapatan Nasional Indonesia
dari
Tahun 2018 hingga 2023 (olahan penulis, sumber: bps.go.id)

Sedangkan
garis Kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan,
dan bukan makanan, yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin.
Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita
per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Selain itu, ada pula indeks kedalaman dan
keparahan kemiskinan dengan penghitungan tersendiri. Seluruh cara mengukur ini di
Indonesia ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia dengan mengikuti
unsur dasar berupa purchasing power parities yang ditetapkan oleh Bank
Dunia
Tabel 2. Kecenderungan
Negatif Pertumbuhan Penduduk Miskin Indonesia
dari
Tahun 2012 hingga 2023

Dari
sejumlah data statistik yang ada, Indonesia terus mendekati target. Sehingga,
“Impian Indonesia” yang ditulis Presiden Jokowi pada awal masa kepemimpinannya,
nampak bukan mimpi di siang bolong.
Gambar 1.
Tulisan Tangan Presiden Joko Widodo tentang “Impian Indonesia 2015 – 2085”
(sumber : Dokumen Visi Indonesia 2045, Bappenas, 2019)
Tahun 2045 menjadi tenggat waktu, sebab
pada saat itu populasi Indonesia diproyeksikan akan terdiri dari 65 persen
warga berusia produktif (15-64 tahun) yang merupakan penduduk usia kerja atau
sekira 208 juta jiwa
Dengan asumsi itu, maka penduduk
berusia produktif pada 2045 adalah penduduk yang sedang berada di sekolah dasar
hingga berusia 45 tahun pada tahun 2024. Artinya dengan mengetahui kualitas manusia
saat ini, maka dapat diperkirakan seperti apa kualitas manusia di tahun 2045
itu.
Terdapat banyak perangkat untuk
melihat kualitas SDM, di antaranya, yang khusus menilai kepemilikan pengetahuan
dan kemampuan bernalar individu, disusun oleh Organisasi Kerjasama dan
Pembangunan Ekonomi (OECD) dengan nama Programme for Internasional Student
Assessment (PISA) dan Programme for the Internasional Assessment of
Adult Competence (PIACC). PISA menilai kualitas literasi pelajar berusia 15
tahun
Indonesia berpartisipasi pada PISA
sejak Tahun 2001 sementara pada PIACC hanya pada Tahun 2015. Skor PISA pelajar
Indonesia pada Tahun 2012 berada pada peringkat 71 dari 72 negara, Tahun 2015
peringkat 64 dari 72 negara
Berbeda dengan PISA, survei PIAAC
dilakukan hanya di Ibukota Jakarta antara 1 April 2014 hingga 31 Maret 2015.
Sekitar 7.229 orang dewasa berusia 16-65 tahun menjadi responden. Hasil survei
memberikan gambaran tentang kemahiran orang dewasa dalam tiga keterampilan
pemrosesan informasi utama:
a. Literasi
: kemampuan untuk memahami dan menanggapi teks tertulis dengan tepat
b. Numerasi
: kemampuan untuk menggunakan konsep numerik dan matematika
c. Pemecahan
masalah di lingkungan padat teknologi : kapasitas untuk mengakses, menafsirkan
dan menganalisis informasi yang ditemukan, mengubah dan berkomunikasi dalam
lingkungan digital.
Tingkat kemahiran digambarkan dengan skala
500 poin yang dibagi menjadi beberapa Tingkat/level. Setiap tingkat merangkum
apa yang dapat dilakukan seseorang dengan skor tertentu. Untuk literasi dan
numerasi terbagi dalam 6 tingkat/level kemahiran (Level 1 hingga 5, dan level
kurang dari 1) kemudian 4 tingkat untuk pemecahan masalah di lingkungan padat
teknologi (Level 1 hingga 3, dan level kurang dari 1).
Hasil survei PIACC Tahun 2015
Data kuantitatif tadi menunjukkan
rendahnya kualitas SDM Indonesia yang akan mengisi kebutuhan kinerja bangsa
tahun 2045 nanti. Jika melihat data kualitatif, kecemasan itu makin bertambah.
Sejumlah riset menujukkan warga Indonesia masih gemar menyebar informasi yang
tidak diperiksa terlebih dahulu (Ajengrastri,
2019; Thorn & Curnow, 2021; Mardjianto, Pandji, & Indrasari, 2022).
Sebagai contoh, ketika perhatian publik pada pertengahan 2024 tertuju pada
proses penyelidikan ulang kasus yang diberi label “Vina Cirebon”, beredar kabar
melalui media sosial Youtube “Aktual” dengan subscriber 40 ribu lebih pada 25
Juni 2024 dengan narasi: “Presiden Jokowi Dan Sigit Resmi Copot Polda Jabar
Akibat Batalkan Sidang Pegi”. Sebuah peristiwa yang faktanya tidak ada, alias hoax,
namun sudah ditonton lebih dari seribu orang pada 27 Juni 2024 dan memperoleh tujuh
komentar yang mempercayai informasi tersebut
Kelemahan
dalam kapasitas literasi dan pengetahuan generasi yang akan menjadi tumpuan
harapan era Indonesia Emas tentu patut dicemaskan. Sebab “kemampuan akses terhadap
informasi dan exposure masyarakat terhadap berbagai macam informasi dan
ideologi .. berpotensi menimbulkan pergeseran nilai di tengah masyarakat
sehingga memungkinkan terjadinya konflik” (Bappenas,
2019:14). Setiap manusia memiliki perangkat untuk berpikir, namun
kegiatan berpikir tidak dapat menghasilkan keputusan tepat tanpa dasar
pengetahuan dan keterampilan bernalar
Ini adalah tantangan bagi para ilmuwan
yang memproduksi pengetahuan untuk segera mengintensifkan komunikasi kepada
masyarakat sebagai pengguna pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, selain
fokus pada publikasi jurnal ilmiah. Komunikasi yang disebut sebagai komunikasi
sains, komunikasi dari ilmuwan untuk menyebarkan pengetahuan kepada publik
Mendefinisikan
Komunikasi Sains
Menggunakan pendekatan deskriptif
kualitatif, penulis memandang komunikasi sebagai tindakan konstruktif manusia untuk
memahami dunianya, seperti dipaparkan Piaget (1995:292).
Sebagai bagian dari tindakan komunikasi, kajian komunikasi sains dapat ditemukan
dalam banyak artikel jurnal, artikel majalah, buku, ensiklopedia, arsip
digital, dan lain-lain sebagai bentuk telaah pustaka kajian ilmu komunikasi
baik secara monodisiplin, multidisiplin, atau interdisiplin. Bahkan ada pula
jurnal khusus yang fokus pada kajian komunikasi sains, seperti Jcom
(jcom.sissa.it). Dengan bantuan teknologi informasi komunikasi yang telah
berkembang pesat saat ini, seperti aplikasi mesin pencari artikel jurnal yang
terbuka (free-to-use) di antaranya Publish and Perish, BASE (Bielefeld
Academic Search Engine), OATD (Open Access Theses and Dissertations)
atau mesin kecerdasan buatan (AI) seperti Consensus, Perplexity, Scispace, setiap
orang dapat dengan mudah menemukan ribuan artikel dengan kata kunci atau topik
kajian tertentu. Kemudian menggunakan alat bantu AI seperti Poe (poe.com) dan Reasearch
Rabbit (researchrabbitapp.com) kumpulan ribuan artikel tersebut dapat dibaca
dan diekstraksi isinya untuk menemukan masalah yang telah banyak dikaji serta
sebaran tema penelitian yang telah dikerjakan selama ini. Pekerjaan mengumpulkan
artikel yang biasanya dilakukan berminggu-minggu, saat ini dapat diselesaikan
dalam sehari. Selanjutnya, membaca isi artikel yang telah diseleksi secara
lengkap. Bagian ini nampaknya masih belum secara penuh dilayani oleh AI meski
sudah banyak yang dapat meringkas isi pdf, website, video, audio, namun
belum ada yang dapat menggunakan hasil bacaan itu ke dalam konteks penelitian
yang hendak dirancang dan dilakukan. Apalagi merancang pemodelan kerangka pemikiran,
walau sudah ada AI yang dapat membantu menggambar model mind-map. Nampaknya
itu masih menjadi tugas otak manusia.
Dari sekian banyak data artikel, buku,
dokumen, website, diketahui gagasan tentang komunikasi sains dari kampus dan
ilmuwan kepada non-ilmuwan bukanlah hal baru
Mengingat banyaknya publikasi tentang
komunikasi sains tersebut, dalam bagian ini, pembahasan tentang lingkup riset, sejarah
dan praktik atau model komunikasi sains di luar Indonesia tidak akan dibahas, sebab
kajian komunikasi sains di Indonesia masih terbatas. Ini disebabkan, menurut
pandangan penulis, padanan kata “science” ke dalam bahasa Indonesia
menjadi “sains” adalah ambigu. Secara awam, “sains” dalam budaya Indonesia
dipahami sebagai matematika dan ilmu alam (MIPA), sehingga ketika kajian
komunikasi sains dilakukan di Indonesia, lingkupnya menjadi seputar MIPA,
sebagai model pembelajaran sains Expert-Novice Dialog
Komunikasi sains bukan sekadar penyebaran
pengetahuan ilmiah melalui penerbitan artikel di jurnal dengan pesan esoterik, melainkan
juga upaya melibatkan publik lebih luas untuk mendukung pengembangan
pengetahuan, mempengaruhi perilaku masyarakat, dan memastikan publik memahami
dan mengadopsi kemajuan ilmu pengetahuan. Komunikasi sains adalah upaya untuk mempromosikan
ilmu pengetahuan yang demokratis, di antaranya dengan mendorong keterbukaan, transparansi,
integritas dan akuntabilitas peneliti, penelitian dan pendampingan yang independen, dialog
yang bermakna, kesetaraan dalam distribusi pengetahuan dan solusi teknologi
Menurut
Leßmöllmann (2020), komunikasi sains terbagi dua menjadi:
a. Komunikasi
Sains Internal: Melibatkan komunikasi dalam komunitas ilmiah, seperti mencatat,
menulis jurnal lab, mendiskusikan data awal, dan menerbitkan dalam jurnal
ilmiah.
b. Komunikasi
Sains Eksternal: Mengacu pada komunikasi pengetahuan ilmiah kepada publik yang
lebih luas. Ini termasuk artikel sains populer, kuliah umum, museum sains, dan
presentasi media.
![]() |
Model 1. Kontinum
Komunikasi Sains (Rekaan Penulis, 2024)
Serpihan Komunikasi Sains di
Indonesia
Tahun 2021, jumlah publikasi jurnal
internasional Indonesia meningkat hingga 600% dalam enam tahun terakhir, dari
sebelumnya 8.000 publikasi per tahun menjadi 50 ribu publikasi per tahun. Data
ini diungkap Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan
Teknologi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nizam, dalam sebuah
seminar di Jakarta
Lonjakan jumlah publikasi sebanyak itu
cukup mengagumkan di kalangan akademisi Indonesia. Meski jika dibandingkan
dengan kinerja produksi pengetahuan baru di negara lain, maka Indonesia tidak
nampak dalam peta dunia seperti terlampir dalam gambar-gambar di bawah ini. Empat
buah gambar di bawah memperlihatkan 3 wilayah paling rajin dalam menghasilkan pengetahuan
baru melalui publikasi artikel jurnal akademik, yaitu: Eropa, Tiongkok, Amerika
Serikat.

Gambar 1.
Sebaran perguruan tinggi dengan volume publikasi riset
pada
jurnal bereputasi internasional
menurut
negara (Scimago Institution Rankings, 2024)

Gambar
2. Sebaran 500 Perguruan Tinggi
dengan
volume publikasi riset terbanyak
pada
jurnal bereputasi Internasional
menurut
negara (Scimago Institution Rankings, 2024)

Gambar
3. Sebaran volume publikasi riset
yang
dilakukan lembaga negara
pada
jurnal bereputasi Internasional
berdasarkan
negara (Scimago Institution Rankings, 2024)

Gambar
4. Sebaran 500 negara dengan publikasi riset terbanyak
pada
jurnal bereputasi Internasional (Scimago Institution Rankings, 2024)
museum
ada
web asosiasi museum indonesia
festival
ilmiah
festival
karya ilmiah mahasiswa
pameran
inovasi
lomba
poster ilmiah
buku
ada
data ikapi
publikasi
karya ilmiah populer
data
dari
Menurut
tujuan penggunaannya, mengakses konten hiburan paling banyak dipilih peserta
didik dengan persentase 86,65%. Lalu tujuan berikutnya bermedia sosial sebesar
66,68% dan mencari informasi atau berita 61,39%. Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas BPS Maret 2023). Responden 345 ribu rumah tangga di 34 provinsi dan
514 kabupaten/kota di Indonesia.
Film
animasi 2D karya anak bangsa berbiaya Rp.15M, bertema perjuangan diproduksi
oleh MSV Pictures, sebuah studio animasi di bawah naungan STIMIK AMIKOM
Yogyakarta. Dirilis pada 20 Agustus 2015.
Berhasil
meraih sejumlah penghargaan, Best Animation di Milan International Film
Festival 2017, Best Animation dalam Berlin International Film Festival 2017,
Best Animation dalam Nice International Film Festival 2017, dan masih banyak
lagi.
D:
Potensi Komunikasi Sains
Tantangan
Komunikasi Sains di Indonesia:
* Tingkat literasi sains yang rendah
* Ketidakpercayaan publik terhadap sains
* Kurangnya infrastruktur dan sumber daya
untuk komunikasi sains
* Fragmentasi komunitas sains
* Budaya yang lebih menyukai tradisi dan
kepercayaan daripada sains
Peluang
Komunikasi Sains di Indonesia:
* Perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi
* Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang
pentingnya sains
* Dukungan pemerintah untuk komunikasi
sains
* Tumbuhnya komunitas online dan media
sosial yang fokus pada sains
C:
Kesimpulan: Masa Depan Komunikasi Sains di Indonesia
Komunikasi
sains di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan, namun juga terdapat
banyak peluang untuk meningkatkan efektivitasnya. Upaya bersama dari berbagai
pihak, termasuk pemerintah, komunitas sains, dan masyarakat, diperlukan untuk
meningkatkan komunikasi sains di Indonesia dan memanfaatkan sains untuk
kemajuan bangsa.
Rekomendasi:
untuk meningkatkan komunikasi sains di Indonesia, seperti meningkatkan
pendidikan sains dan literasi, membangun kepercayaan publik terhadap sains,
meningkatkan partisipasi publik dalam kegiatan sains, memperkuat infrastruktur
dan sumber daya untuk komunikasi sains, membangun kolaborasi antara komunitas
sains dan pemangku kepentingan lainnya, dan mempromosikan budaya ilmiah dalam
masyarakat.
Referensi
Ahmadi, D., Nursyawal, & Rachmiatie, A. (2019). Public Participation
Model for Public Information Disclosure. Jurnal Komunikasi: Malaysian
Journal of Communication, 35(4), 305-321.
doi:https://doi.org/10.17576/JKMJC-2019-3504-19
Ajengrastri, A. (2019). Indonesian survey explores the
spread of misinformation on WhatsApp. International Journalists’ Network.
Badan Pusat Statistik. (2018). Proyeksi Penduduk
Indonesia 2015-2045. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik. (2023). Profil Kemiskinan 2023.
Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik. (2024). Pendapatan Nasional
Indonesia. Jakarta: BPS.
Bappenas. (2019). Background Study: Visi Indonesia 2045.
Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.
Bernal, J. D. (1967). The Social Function of Science.
Cambridge: The M.I.T. Press.
Dewi, R., Akbar, B., & Meitiani. (2022). Analisis
Kemampuan Komunikasi Sains Siswa Pada Pembelajaran Biologi Kelas X. Al-Nafis:
Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi, 1(2), 1-7. Diambil kembali dari
http://dx.doi.org/10.46339/al-nafis.v2i1.763
Engstrom, E., & Beliveau, R. (2021). Gramsci and
Media Literacy: Critically Thinking about TV and the Movies. London:
Lexington Books.
Hartomo, T. S., & Cribb, J. (2002). Sharing
Knowledge a Guide to Effective Science Communication. Collingwood: CSIRO
PUBLISHING.
Herzog, L. (2024). Citizen Knowledge: Markets, Experts,
and the Infrastructure of Democracy. New York: Oxford University Press.
Hidranto, F. (2023, Juli 14). Mewujudkan Indonesia Emas
di 2045. Diambil kembali dari Portal Informasi Indonesia:
https://indonesia.go.id/kategori/editorial/7269/mewujudkan-indonesia-emas-di-2045?lang=1
Indriani. (2016, 12 6). Peringkat PISA Indonesia alami
peningkatan. Diambil kembali dari Kantor Berita Indonesia ANTARA:
https://www.antaranews.com/berita/600165/peringkat-pisa-indonesia-alami-peningkatan
Kemendikbudristek. (2023). Laporan PISA 2022 dan
Pemulihan Pembelajaran di Indonesia. Jakarta: Kemendikbudristek.
King, L., & Rivett, G. (2015). Engaging People in
Making History: Impact, Public Engagement and the World Beyond the Campus. History
Workshop Journal, 80(1), 218–233. Diambil kembali dari
https://doi.org/10.1093/hwj/dbv015
Leßmöllmann, A., Dascal, M., & Gloning, T. (2020). Communication
Science: volume 17. Boston/Berlin: Walter de Gruyter Inc.
Mardjianto, F., Pandji, Y., & Indrasari, T. (2022). Fact-Check
Audience in Indonesia 2022. Jakarta: AMSI, GBI, CekFakta. Diambil kembali
dari Turnbackhoax.id.
Marzuki, S. (2020, September 24). Saatnya Ilmuwan
Bersuara: Pentingnya Komunikasi Sains Dalam Mendorong Kebijakan Berbasis
Bukti. Diambil kembali dari The Conversation Indonesia - Youtube :
https://youtu.be/LbQGRk3bBDc
OECD. (2016). Jakarta (Indonesia) : Country Note -
Skills Matter: Further Results from the Survey of Adult Skills. Paris:
OECD.
OECD. (2019). Indonesia - Country Note - PISA 2018
Results, Volume I-III. Paris: OECD.
OECD. (2024, Juli 04). Programme for International
Student Assessment (PISA). Diambil kembali dari OECD:
https://www.oecd.org/en/about/programmes/pisa.html
OECD. (2024, Juli 04). Survey of Adult Skills (PIAAC).
Diambil kembali dari OECD:
https://www.oecd.org/en/about/programmes/piaac.html#:~:text=The%20Programme%20for%20the%20International%20Assessment%20of%20Adult,of%20PIAAC%20is%20the%20Survey%20of%20Adult%20Skills.
Pamuk, Z. (2021). Politics and Expertise how to use
science in a democratic society. New Jersey: Princeton University Press.
Paojiah, E., Suhendar, & Nuranti, G. (2021). Expert
Novice Dialog (END) Di Masa Pandemi Covid-19 Untuk Menilai Kemampuan
Komunikasi Sains. BIODIK: Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi, 7(3),
93-104.
Piaget, J. (1995). Sociological Studies. East
Sussex: Routledge.
Putra, I. P. (2021, Desember 09). Jumlah Publikasi
Jurnal Internasional Indonesia Meningkat 600% Dalam 6 Tahun. Diambil
kembali dari Media Indonesia:
https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/ybD4LZZb-jumlah-publikasi-jurnal-internasional-indonesia-meningkat-600-dalam-6-tahun
Rachmiatie, A., Rahmafitria, F., & Larasati, A. (2022).
The role of knowledge, attitude, and subjective norm on Muslim tourists'
behavior in choosing Halal hotel and restaurants: The Indonesia case. Islam,
Media and Education in the Digital Era, 580-585.
Ramadhan, A., & Santosa, B. (2023, Juni 15). Jokowi
Luncurkan Rancangan RPJPN 2025-2045, Panduan Meraih Cita-cita Indonesia Emas.
Diambil kembali dari Kompas.com:
https://nasional.kompas.com/read/2023/06/15/10460381/jokowi-luncurkan-rancangan-rpjpn-2025-2045-panduan-meraih-cita-cita
Thorn, M., & Curnow, S. (2021, Januari 16). What You
Share Defines You : Indonesia Has World’s Biggest Fact-Checking Network.
Diambil kembali dari Jakarta Globe:
https://jakartaglobe.id/news/what-you-share-defines-you-indonesia-has-worlds-biggest-factchecking-network
Tim Kalimasada. (2024, Juni 27). [SALAH] PRESIDEN JOKOWI
DAN KAPOLRI COPOT POLDA JABAR AKIBAT BATALKAN SIDANG PEGI. Diambil
kembali dari Turnbackhoax.id:
https://turnbackhoax.id/2024/06/27/salah-presiden-jokowi-dan-kapolri-copot-polda-jabar-akibat-batalkan-sidang-pegi/
Webster, A. (1988). Introduction to The Sociology of
Development. London: Macmillan Education ltd.
Weingart, P., Joubert, M., & Connoway, K. (2021).
Public engagement with science: Origins, motives and impact in academic
literature and science policy. PLoS ONE, 16(7). Diambil kembali dari
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0254201
White, A. (2014). Digital Media and Society Transforming
Economics, Politics and Social Practices. Hampshire: Palgrave Macmillan.
Yuriawan, K. (2021). Strategi Komunikasi Sains LIPI dalam
Kegiatan Diseminasi Pupuk Organik Hayati Kepada Masyarakat. Jurnal
Komunikasi Pembangunan, 19(02), 97-110. Diambil kembali dari
https://doi.org/10.46937/19202136320

Tidak ada komentar:
Posting Komentar